May 2016

Dulu, setiap mendengar kata Banyuwangi, yang terbayang di kepala adalah daerah yang rawan santet, wingit, penuh dengan kepercayaan gaib, dll. iya nggak sih? Saat ini, kesan itu bahkan sudah jauh dan tak terpikirkan lagi. Ketika aku blogging ke Banyuwangi pertengahan Mei lalu, kulihat wilayah ini sudah

Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur merupakan desa adat yang dipandang paling otentik mempertahankan seni budaya khas Suku Osing, suku asli Banyuwangi yang ditengarai merupakan keturunan masyarakat Kerajaan Blambangan. Bahasa yang digunakan, seni budaya, dan tradisi Osing masih sangat kental di desa ini.

Suku Osing di Banyuwangi tinggal di beberapa desa, khususnya di Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur. Namun, kekentalan adat budaya yang dianggap masih terpelihara secara otentik, hanya ditemukan di Desa Kemiren, termasuk cara memasak dan mengolah makanan khas suku tersebut, seperti: Pecel Pitik, Uyah Asem, Lepet,

SEGO CAWUK Kenal sego cawuk? Mungkin yang belum paham, namanya dulu adalah sego janganan. Namun akhir-akhir ino dipopulerkan dengan nama Sego Cawuk. Ini sarapan khas Banyuwangi. Kata penduduk, siang sedikit makanan ini sudah tidak afdol dimakan lagi. Jadi penjaja menyajikan sepagi mungkin, maksimal hanya sampai jam

Area terbuka hijau semakin langka di perkotaan. Ketiadaan daerah resapan air sering menjadi masalah tersendiri. Tapi kota Palembang punya cara jitu untuk mengantisipasi. Kota yang berdiri di area yang sebagian besar berawa ini, justru memanfaatkan rawa untuk taman kota. Kambang Iwak misalnya. Kambang Iwak atau dalam

Hari kedua dari FAM Trip ke Palembang, Selasa, 10 Mei 1016, aku dan blogger-bloger lainnya akhirnya sampai di Pulau Kemaro. Pulau yang terletak di tengah Sungai Musi ini cukup menarik. Nama "kemaro" mengacu pada kata kemarau atau kering. Nama ini menjadi sebutan, mengingat baik sungai sedang

Makanan khas Palembang yang tak boleh dilewatkan: Mie Celor. Celor sebenarnya adalah satu teknik memasak, di mana bahan dicelupkan ke air panas sebentar. Mungkin istilah kerennya itu di blanching kali ya. Nah, karena mie yang digunakan di mie celor ini jenis yang tebal, sehingga perlu dicelupkan