Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Bagonjong Minangkabau

Rumah gadang ateh bagonjong,
Nan talatak ditapi gunuang,,
Rancak indak manih tadorong,
Ndak amuah pueh mato mamandang

Rumah gadang atasnya bergonjong
Yang terletak di tepi gunung
Bagus tidak, tapi sangat manis
Tidak akan puas mata memandang

Pantun tersebut jelas mencerminkan betapa indah sebenarnya gonjong atau bagian atap rumah minang yang melengkung dan lancip itu. Bentuknya yang khas sangat ikonik. Rumah Gadang atau rumah adat minang menggunakan ciri ini. Sekali melihat, kita langsung akan mengenali rumah adat ini.

Sewaktu aku jalan-jalan ke Minangkabau Village, Jum’at – 5 Agustus 2016 kemarin, terdapat Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM). Di bangunan yang berbentuk rumah gadang yang cukup megah ini banyak informasi dan filosofi menarik yang jarang diketahui oleh orang di luar suku Minang. Misalnya, rumah gadang biasanya dibangun di atas sebidang tanah milik keluarga induk dalam suku/kaum. Mengingat prinsip matriarkat dari suku ini, maka rumah gadang diwariskan secara turun temurun kepada perempuan pada suku tersebut. Lahan dan rumah ini tidak boleh dijual, tapi dengan alasan tertentu, dapat digadaikan kepada keluarga dekat. Meskipun demikian, syarat gadai sukup berat, antara lain bila rumah gadang rusak, tapi tak ada biaya untuk memperbaikinya. Juga bila ada gadis yang sudah siap ke pelaminan, tapi tak ada biaya untuk menikahkannya. Atau bila ada kematian di rumah gadang, tapi tak ada biaya untuk menguburkannya.

Berbicara mengenai rumah gadang, kalau kita perhatikan ada 2 jenis rumah gadang, yaitu yang berkolong atau bertingkat, dan yang tidak bertingkat. Keduanya mencerminkan suku besar yang ada di Minang. Kondisi tingkat dan tidak bertingkat ini juga mencerminkan tatanan sosial yang berlaku di rumah gadang tersebut. Tertarik untuk tahu apa bedanya? Yuk, bersabarlah untuk membaca tulisan ini sebentar lagi.. ☺

Begini. Rumah gadang bertingkat biasanya dimiliki oleh marga Koto dan Piliang. Sistem sosial keduanya lebih hirarkis. Kekuasaan tertinggi adalah pada tetua adat dan mutlak sifatnya. Itu kenapa di rumah gadang berkolong ini, sayap kanan dan kiri biasanya berundak-undak. Posisi duduk dipengaruhi oleh strata sosial: strata tertinggi duduk di undak teratas.

Sedangkan rumah gadang tanpa kolong atau tidak bertingkat biasanya dimiliki oleh suku Bodi dan Chaniago. Kedua suku ini lebih demokratis. Berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

Meskipun agak berbeda, kedua rumah gadang ini memiliki kesamaa, yaitu keberadaan Rangkiang atau lumbung padi. Jumlah rangkiang antara 2-4 bh. Fungsinya berbeda-beda. Rangkiang dengan 4 tiang, biasanya berisi padi yang digunakan oleh keseharian penghuni rumah gadang. Sementara rangkiang dengan kaki 6-9 biasanya dimanfaatkan untuk menyimpan padi dengan tujuan sosial.

Jujur, sebelum ke tempat ini aku sama sekali tidak memperhatikan soal jumlah tiang ini.

Rumah Gadang sebagai tempat tinggal bersama, mempunyai ketentuan-ketentuan tersendiri. Sesuai dengan prinsip matriarkat dari suku Minang, di mana sistem pengelompokan sosial dengan seorang ibu menjadi kepala dan penguasa seluruh keluarga, maka jumlah kamar bergantung kepada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan dalam kaum tersebut yang telah bersuami memperoleh sebuah kamar. Sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur, dan gadis remaja memperoleh kamar bersama di ujung yang lain.

Bagaimana bila anaknya laki-laki? Begini, anak laki-laki setelah usia 10 tahun, meski masih disupport hidupnya oleh keluarga besar di rumah gadang, tapi pada malam hari dia harus tidur di surau, yang biasanya tidak jauh dari rumah.

Ada yang menarik dari penataan bagian ruang Rumah Gadang. Pada prinsipnya semua merupakan ruangan lepas kecuali kamar tidur. Bagian dalam terbagi atas lanjar. Setiap lanjar ditandai dengan tiang. Lanjar ini berbanjar dari depan ke belakang. Sedangkan tiang kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah ruang tergantung pada besarnya rumah. Biasanya berjumlah ganjil. Harus ganjil karena lanjar dan ruang paling tengah merupakan pintu menuju ke dapur. Sehingga ruang ke kanan dan ruang ke kiri seimbang, bisa 7, 9, atau 11.

Pembagian lanjar dan ruang ini ternyata beretika lho. Penghuni ruang hanya bisa menerima tamunya di lanjarnya sendiri, tak boleh di lanjar ruang sebelahnya. Dan biasanya tamu yang dipersilakan masuk ke ruang gadang, didudukkan menghadap ke depan, dan tuan rumah menghadap ke dalam. Tujuannya agar sang tamu tak perlu melihat kekurangan sang pemilik ruang. Cukuplah ia melihat keindahan di luar rumah gadang.

Sekedar info, kolong rumah gadang PDIKM ini dimanfaatkan untuk display pelaminan. Daaaaannn, ini yang seru, di situ kita bisa menyewa pakaian adat Minang untuk dicoba. Langsung deh, aku semangat. Kapan lagi punya kesempatan memakai pakaian adat suku lain. Selama ini kan aku hanya pernah memakai pakaian adat Jawa saja kan. Lagian biayanya murah saja kok, hanya Rp 25.000.

Dan, kemarin itu foto dong sama Budi Alexander, mahasiswa S2 ISI Padang yang sedang bermain saluang di area PDIKM. Yah, gaya-gaya gitu deh. Scenering.

menggunakan suntiang di masa sekarang sudah sangat ringan, dulu suntiang dibuat menggunakan logam emas atau perak, bisa dibayangkan beratnya kepala jika menggunakan suntiang asli?


Tertarik juga mau ke sini?

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau berlokasi di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padang Panjang Barat, Kota Padang Panjang. Dapat diakses dari jalur utama Padang–Bukittinggi, berjarak sekitar lebih kurang dua kilometer dari pusat kota Padang Panjang.

#TdS2016 #PesonaSumbar #PesonaMinang #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #BloggerTravel #Traveller #Minangkabau #WestSumatera #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén