Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Bakcang Sampan Laju di Pontianak

Matahari begitu terik, tapi siang itu ratusan warga keturunan Tionghoa berbondong-bondong melaksanakan tradisi mandi sungai pada tengah hari, antara pukul 11.00 – 13.00 WIB. Tradisi yang jatuh pada tanggal 5 bulan 5 dalam penanggalan Imlek itu berlangsung di Sungai Kapuas, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

tradisi mandi di sungai kapuas yang membelah pontianak

Tradisi mandi tengah hari ini adalah tradisi orang Tionghoa yang merupakan bagian dari perayaan Duan Wu Jie, yaitu tradisi makan kue Bakcang dan mandi di sungai pada tengah hari, yang diperingati setiap tahun secara turun temurun.
Tahun ini perayaan tersebut jatuh di hari Kamis. 9 Juni 2016. Tampak kemeriahan masyarakat saat saling melempar air dalam festival ini. Ratusan warga mengikuti kemeriahan Festival-nye Kapuas Punye Cerite ‘Bakcang Sampan Laju’ sejak pukul 10.30 hingga pukul 13.00 WIB.

Budayawan Tionghoa Kalbar, XF Asali mengatakan mandi pada saat tengah hari di sungai atau laut dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa tradisional dipandang memberikan berkah dan keselamatan, dimana segala sifat buruk dan tabiat yang tidak baik diharapkan hanyut mengikuti derasnya arus air yang mengalir.

Sementara itu tradisi makan bakcang dipengaruhi oleh berbagai kisah menarik. Salah satunya adalah kisah patriotisme Qu Yuan.

Qu Yuan (339 SM – 277 SM) adalah seorang Menteri Negara Chu. Saat itu Tionghoa masih terbagi-bagi dalam beberapa negara kecil dan saling berperang. Qu Yuan adalah seorang pejabat yang berbakat dan setia pada negaranya. Ia banyak memberikan ide untuk memajukan negara Chu, bersatu dengan negara Qi untuk memerangi negara Qin. Namun sayang, ia dikritik oleh keluarga raja yang tidak senang padanya yang berakhir pada pengusiran dirinya dari ibukota negara Chu. Ia yang sedih karena kecemasannya akan masa depan negara Chu kemudian bunuh diri dengan melompat ke sungai Miluo.

Rakyat yang sangat menghormatinya sangat sedih dan mencari-cari jenazah sang menteri di sungai tersebut. Mereka melemparkan nasi dan makanan lain ke dalam sungai dengan maksud agar ikan dan udang dalam sungai tersebut tidak mengganggu jenazah sang menteri. Kemudian untuk menghindari makanan tersebut dari naga dalam sungai, maka mereka membungkusnya dengan daun-daunan yang kita kenal sebagai bakcang sekarang. Para nelayan yang mencari-cari jenazah sang menteri dengan berperahu akhirnya menjadi cikal bakal dari perlombaan perahu naga setiap tahunnya.

tradisi berbagi bakcang di pontianak

Sekedar info, untuk yang belum memahami apa itu bakcang: Bakcang terdiri dari dua kata, yaitu BAK yang berarti daging, dan CANG berarti isi. Jadi Bakcang berarti berisi daging. Penganan tradisional asal Negeri Tirai Bambu ini secara umum berbahan ketan, dengan isian daging, dibungkus dengan daun bambu dan diikat hingga berbentuk limas. Namun pada praktiknya selain yang berisi daging ada juga cang yang berisikan sayur-sayuran atau yang tidak berisi. Yang berisi sayur-sayuran disebut chaicang, chai adalah sayuran dan yang tidak berisi biasanya dimakan bersama dengan srikaya atau gula disebut kicang.

Lempar Peluru Air
Kemeriahan Bakcang Sampan Laju telah dimulai sejak pagi jam 10.00 WIB dimana pemuda dan pemudi menyusuri Sungai Kapuas dan membagikan bakcang, dengan menggunakan perahu atau sampan. Setelah itu peserta yang rata-rata warga keturunan Tionghoa ini mulai saling lempar kantong plastik berisi air. Dan mulailah upacara mandi tengah hari.

tradisi mandi-mandi di sungai kapuas

Warga masyarakat banyak ikut serta mandi di tepian sungai, sambil menikmati hujan air semprotan empat pompa air yang disediakan panitia. Seru.

#PesonaIndonesia #PesonaPontianak #WonderfulIndonesia #BakcangSampanLaju #sungaikapuas #Traveller #Traveler #TravelBlogger #Blogging #Blogger #Trip #tradition #Culture #NinaYusab #InstaTravel

(foto: koleksi pak Ricco)

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén