Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Balada Bujang Di Rehabilitasi Orangutan

Bujang adalah nama salah satu orangutan penghuni Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). BOSF bekerjasama dengan BKSDA atau Badan Konservasi Sumber Daya Alam – Kementerian Kehutanan mengelola tempat rehabilitasi dan konservasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Species ini memang terancam punah sehingga masuk dalam daftar hewan yang dilindungi. Banyak alasan kenapa orangutan masuk di tempat ini, antara lain: terlanjur jinak karena dipelihara manusia, korban trafficking, terancam kehilangan habitatnya, dan atau alasan lain. Apapun alasannya, semua ditampung di sini dan dilatih untuk dilepasliarkan lagi ke habitatnya di hutan Kalimantan.

Untuk melepasliarkan orangutan, tentu saja serangkaian proses harus dilalui. Antara lain mereka harus ‘masuk sekolah’ juga. Sekolahnya tentu bukan biar pintar baca tulis kayak kita dong, melainkan kembali ke hutan, mengenali ancaman, bertahan hidup, dan lain-lain. Intinya adalah menumbuhkan instik hewan liarnya, menyediakan melatih kemampuan survival mereka setelah dilepaskan ke hutan lagi nanti. Bila sudah siap, orangutan ini akan dilepaskan ke habitat alaminya agar bisa hidup dan berkembang biak dengan baik.

Membuat orangutan siap kembali ke alam liar sedikitnya memakan waktu 7 tahun, kadang lebih, tergantung kecerdasan orangutan yang bersangkutan. Pendidikannya beberapa tahap lho. Level dasar antara 0-3 tahun, level berikutnya 3-5 tahun, dan yang paling akhir 5-9 tahun. Kurikulumnya termasuk mengajari cara memanjat pohon, mengenal musuh, mencari makan, dll. Kalau sudah melewati level terakhir, mamalia yang bisa mencapai usia 60 tahun ini akan dievaluasi dan kemudian direlease ke hutan liar.

Tapi ibarat manusia, mamalia yang 97% DNA-nya mirip kita ini juga ada yang lulus dan tidak lulus sekolah. Mereka yang lulus tentu segera dilepaskan ke hutan. Sedangkan yang tak lulus, tetap dipelihara sebaik-baiknya di kawasan BOSF. Nah, salah satu orangutan yang tak lulus-lulus ya si Bujang ini.

Bujang berusia 30 tahun. Dia masuk ke BOSF saat usianya 14 tahun. Dulu, sebelum masuk BOSF, Bujang dijadikan hewan sirkus. Dibiasakan berjalan tegak dengan kedua kakinya, padahal secara alami seharusnya mamalia ini memanfaatkan kaki dan tangannya untuk memobilisasi dirinya. Parahnya lagi, ia diberi makan nasi layaknya manusia. Kondisinya cukup memprihatinkan saat masuk ke BOSF. Secara fisik, kesehatannya segera bisa diatasi, tapi kecerdasannya sudah tak bisa berkembang lagi. Ia tak lulus-lulus juga dari pelatihan. Yang ada kemudian, Bujang dipelihara di salahsatu orangutan island – pulau-pulau buatan yang dibatasi kolam yang cukup dalam. Pulau-pulau ini cukup nyaman bagi mereka, tetap terlokalisir tanpa terali.

Di pulau ini, Bujang hidup bersama Ani – orangutan betina yang juga gagal dilepasliarkan. Padahal Ani sebenarnya sudah lulus pelatihan. Dia sudah diujicobakan dua kali lepas liar ke hutan di Nyaru Menteng, tapi dua kali pula ia gagal. Ani tak mau naik ke atas pohon. Ia memilih selalu di darat, di atas tanah, sehingga rentan terhadap ancaman terbesarnya, yaitu kita, manusia. Analis psikolog hewan mengatakan si Ani sangat trauma di masa kecilnya. Ia melihat bagaimana ibunya dibunuh manusia. Ingatan ini rupanya terus kembali di benaknya, sehingga saat ini pun ia sering linglung dan duduk diam berlama-lama.

Ketika Bujang dipasangkan dengan Ani, pengelola BOSF berharap keduanya bisa berkembang biak. Tapi yang ada, si Bujang malah ketakutan. Kalaupun aktif berkopulasi, justru Ani yang lebih sering ‘memperkosa’ si BUjang daripada sebaliknya. Bujang memang seperti tak selera dengan sesama orangutan. Tapi jangan salah. Ia justru naik birahinya saat ada wanita cantik di sekitarnya. Apalagi kalau wanita itu berambut panjang dan blonde, segera saja ia bermain-main sendiri dengan ‘miliknya’. Kemarin pun saat melihat salah satu blogger kita yang cantik, si Bujang langsung beraksi. Uuupps. Kok aku jadi malah cerita porno ya. Aih.

Itulah balada Bujang, salah satu penghuni BOSF dengan dramanya. Semua orangutan di sini memang memiliki ceritanya sendiri. Layaknya kita, mereka menyusun cerita dari pengalaman demi pengalaman hidupnya.

Sementara itu banyak juga orangutan yang tidak bisa dilepasliarkan lagi ke alam dengan beberapa alasan, antara lain mengidap penyakit seperti hepatitis, tbc, cacat mental dan cacat fisik. Mereka memang rentan sekali terhadap penularan penyakit manusia. Ingat kan, kalau DNA mereka nyaris mirip banget dengan kita. Jadi kalau hidup di sekitar kita, penyakit kita pun bisa menulari dan mengancam hidup mereka.

Sekedar info, BOSF tak hanya merehabilitasi dan mengkonservasi orangutan, tapi juga sunbear alias beruang madu – beruang endemik Indonesia. Pas aku dan kawan-kawan datang akhir bulan Juli 2017 kemarin, terdapat 165 orangutan dan 44 beruang madu di tempat ini.

Balada Bujang di Pusat Rehabilitasi Orangutan

beruang madu

Beruang madu yang ada di sini sayang sekali sudah tak bisa dikembalikan ke alam. Kebanyakan sudah tua dan cacat fisik, termasuk buta. Tapi mereka berhak hidup juga, jadi ya ikut dirawat seumur hidup di sini.

Teman-teman bisa lho masuk ke BOSF dan menengok orangutan dan sunbear yang ada di sini. Hanya saja, kita tak bisa datang dadakan, dijamin bakalan ditolak. Kalian harus kontak dulu dua atau tiga hari sebelumnya untuk reservasi. Bila memungkinkan, tak ada bentrok dengan pengunjung lainnya, ya akan diterima. Maklum, ada maksimal kuota pengunjung di sini, yaitu 50 orang saja per hari, agar tak mengganggu ketenteraman orangutan dan sunbear yang hidup di BOSF. Ada biayanya. Tertera sih rata-rata US$ 50/orang. Tapi ada juga kok kebijakan yang memungkinkan kalian dapat diskon untuk biaya masuk. Hubungi saja mbak Lisa di 0821 4941 8353 ya.

Kalau teman-teman mau merasakan menginap dengan suasana hutan, bisa lho. BOSF menyediakan Samboja Lodge di tengah kawasan yang dikelolanya. Biaya antara Rp 1.550.000 – Rp 2.950.000/kamar. Dijamin bakal dapat pengalaman bermalam yang seru. Mau?

    Catatan:

Pusat Rehabilitasi Orangutan – BOS Foundation
Jl Raya Balikpapan Km 44
Samboja Lestari, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
Kontak Person: Mbak Lisa – 0821 4941 8353

#PesonaIndonesia #PesonaKutaiKartanegara #WonderfulIndonesia #PesonaErau2017 #VisitKukar #Traveller #Traveler #TravelBlogger #Blogging #Blogger #Trip #Kaltim #VisitKutaiKartanegara #BorneanOrangutan #InstaTravel #BorneoOrangutanSurvivalFoundation #BOSF #Orangutan #Sunbear #Beruangmadu #BOSFoundation #RehabilitasiOrangutan #BKSDA #KonservasiAlam #KalimantanTimur #Samboja #Conservation #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén