Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Berbasah-basah Di Pacu Jawi

Jangan nonton Pacu Jawi kalau tidak siap basah. Orang Sumatera Barat menyebut sapi atau lembu dengan JAWI. Nah, Pacu Jawi berarti pacuan sapi.

Aku yang baru pertama kali menonton Pacu Jawi, tak lepas dari cipratan dan semburan air dari sapi yang melintas cepat di sawah basah.

Ah, untuk yang belum tahu Pacu Jawi, itu semacam pacuan sapi. Mirip dengan Karapan Sapi di Madura. Bedanya, kalau Karapan Sapi dilakukan di sawah kering, maka Pacu Jawi ini justru diselenggarakan di sawah basah. Tidak heran jika penonton yang biasanya ingin melihat sedekat mungkin, harus rela berbasah-basah akibat cipratan lumpur saat sapi melintas cepat.

Untuk berpacu, dua ekor sapi dipasangi tali bajak. Jangan bayangkan Seorang joki akan mengendalikan dua sapi ini. Kakinya masing-masing bertumpu pada tali bajak. Dan meskipun namanya tali bajak, tapi sebenarnya alat ini terbuat dari bilah bambu yang diikat ujung ke ujung. Di satu sisi dia diberi kayu dengan bentuk khusus agar bisa dikaitkan di bagian leher atas si sapi. Sedangkan ujung lain, dikait dan diberi bilah kecil untuk kaki joki bertumpu, tanpa alas kaki lho yaaa. Bisa dibayangin kan kalau ada batu di lintasan, apa kaki mereka nggak bonyok tuh? Joki biasanya akan berpegangan pada ekor sapi, menghentakkannya sehingga sapi melesat berpacu dengan waktu untuk sampai di garis finish.

Sssttt, mau aku kasih tahu apa yang membuat sapi jadi giras alias gahar mau bersicepat? Salah seorang pawang mengaku kalau sesaat akan dipacu, ‘anunya’ sapi..itu tuh, bagian kelaminnya dioles balsem banyak-banyak. Si sapi pasti kepanasan dong.. dan endingnya dia jadi ‘galak’ dan liar. Nah itu saat tepat untuk memacunya.

Pas di lokasi Pacu Jawi, aku cermati, para joki ini tak jarang menggigit ekor salah satu jawi. Konon gigitan ini membuat jawi berpacu lebih cepat sehingga mengimbangi kecepatan sapi pasangannya. So, arah pacu akan lurus dan sapi melesat seperti anak panah.Jawi atau sapi yang gagah dan mendapatkan penghargaan di Pacu Jawi harganya akan melesat 2-3 lipat.

Pacu jawi hanya dikenal di Kabupaten Tanah Datar. itupun hanya di empat kecamatan saja, yaitu: Kecamatan Pariangan, Kecamatan Rambatan, Kecamatan Lima Kaum dan Kecamatan Sungai Tarab. Bisa dikatakan Pacu Jawi ini tradisi masyarakat di empat kecamatan ini. Keempat kecamatan ini menyelenggarakan Pacu Jawi secara bergantian. Bila kegiatan diadakan pada satu kecamatan, Sapi atau jawi yang ikut perlombaan pun jumlahnya bisa lebih dari 500 ekor.

Pacu Jawi bisa dikategorikan sebagai perayaan setelah panen raya. Konon Pacu Jawi sudah dikenal sejak ratusan tahun yang lalu dan menjadi sarana hiburan yang ditunggu-tunggu masyarakat setempat. Semacam pesta rakyat kecil-kecilan. Ada arak-arakan dan pentas seni. Jawi atau sapi didandani dan ikut diarak pula. Penasaran lihat keseruannya. Sayangnya, kemarin aku hanya bisa melihat latihan pemanasan untuk si jawi, seminggu sebelum acara Pacu Jawinya berlangsung. Tapi meski latihan saja, keseruannya sudah terasa sekali.

Penonton dibatasi dengan pagar bambu agar tak turun ke sawah basah. Jawi dipacu sepasang saja. Tidak ada race layaknya Karapan Sapi. Di Pacu jawi sepasang jawi berpacu sendiri. Waktunya dihitung. Sepasang jawi dengan waktu tempuh tercepat, dia juara.

Sebenarnya hadiah yang disediakan oleh panitia tak terlalu banyak. Hanya 1-2 juta saja. Tapi, kata pemilik jawi, bukan itu yang mereka cari. Mereka hanya ingin bergembira usai panen saja. Dan, inilah cara mereka menikmatinya. Jawi yang menang akan menjadi kebanggaan bagi pemiliknya dan diincar oleh banyak orang.

Sesekali, main lah ke Tanah Datar. Selain melihat Istana Pagaruyung, nikmati juga Pacu Jawi ini. Dalam 1 tahun sedikitnya per 3 bulan sekali ada Pacu Jawi, biasanya sesaat sebelum masa tanam.

#TdS2016 #PesonaSumbar #PesonaMinang #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #Minangkabau #WestSumatera #PacuJawi #BloggerTravel #Traveller #Travel #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén