Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Beruntung, Bertemu Pesut-pesut Mahakam!

Pesut? Makhluk apa lagi itu? Yupp, aku yakin tak semua kita tahu apa itu.

Pesut atau Orcela fluminalis itu salah satu mamalia yang hidup di muka bumi ini, yang oleh masyarakat disebut sebagai lumba-lumba, tapi hidup di air tawar. Bentuknya memang mirip sekali dengan lumba-lumba, tapi tanpa moncong botolnya itu. Cara hidup dan perilaku lainnya mirip betul dengan lumba-lumba. Sebut saja dia ini lumba-lumba air tawar.

Pesut bisa ditemukan di tiga negara, yaitu Brasil, Cina, dan Indonesia. Di Indonesia sendiri, kita bisa menemukannya di Sungai Mahakam, Kalimantan.

Sayang sekali populasi pesut semakin langka. Diperkirakan jumlahnya saat ini hanya sekitar 75 ekor saja! Sedih banget nggak sih. Dari guide kita – Mas Innal Rahman saat akan berburu foto pesut, akhir Juli lalu, disampaikan kalau penampakan pesut semakin jarang. Jadi sejak awal berangkat kami sudah diwanti-wanti agar tak kecewa andai tak bisa ketemu pesut nanti. Oke lah. Apa boleh buat.

Mata-mata Jelalatan
Jam 6 pagi kami sudah berangkat ke Kota Bangun, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Konon, pesut-pesut lebih mudah ditemui di sini. Sepanjang perjalanan tak ada hambatan berarti, jadi kami sudah tiba di dermaga Kota Bangun jam 9. Sudah disiapkan dua ketinting untuk susur Sungai Mahakam.

Setelah briefing sebentar, diputuskan untuk menuju ke hilir terlebih dahulu karena diperkirakan jam-jam 10, biasanya ada saja pesut yang bermain-main ke sana. Semangat lah kami. Tapi rupanya kami belum beruntung pagi itu. Hilir sungai sepi. Kamipun segera balik kanan dan menuju ke hulu sungai.

Karena pesut tak juga ditemui, akhirnya kami memutuskan untuk susur Sungai Mahakam ke peternakan Kerbau Kalang, melintasi Danau Semayang dan Danau melintang. Sesusah itu menuju Muara Muntai untuk melihat jembatan kayu terpanjang. Lumayan menghibur sih saat mengulik tempat-tempat itu. Setidaknya kalau aku ya menemukan tempat-tempat baru. Mana pas di Desa Melintang aku bisa bawa pulang ikan asin yang bagus-bagus. hihi.

Ketika usai di Muara Muntai, sekitar jam 14.00 WITA, kami beranjak pulang. Ketinting kembali membawa kami ke hilir, ke dermaga Kota Bangun. Sepanjang perjalanan pulang inilah keberuntungan menghampiri kami. Sedang enak-enaknya melamun melihat air sungai yang mengalir ritmis, dikejauhan terdengar bunyi “ppsst”. Kontan motoris ketinting menunjukkan ke kami lokasi bunyi-bunyian itu. Karena itulah suara khas pesut saat mengeluarkan angin dari lubang di punggungnya.

Mata-mata kami pun langsung jelalatan. Jantung berdesir penuh harap. Semoga si pesut mau menampakkan diri lagi. Tunggu detik demi detik. Berlalu juga menit demi menit. Ketinting yang semula melaju cepat sudah mulai melambat, bahkan berhenti. Mata kami menatap ke berbagai arah.

Dan akhirnya…

Di kejauhan, sekitar 500 meter di sebelah kanan ketinting, tampak seekor pesut menyembul sebentar di permukaan dan langsung menyelam lagi. Meski melihatnya sebentar saja, hati kami serasa berbunga-bunga. YESSSS…akhirnya. Ketemu juga kami dengan seekor pesut Mahakam.

Perlahan dua ketinting kami mulai berjalan lagi, menyesuaikan dengan kecepatan pesut itu. Tak begitu lama muncul lagi pesut Mahakam. Dan tak hanya satu, ada tiga pesut sedikitnya yang berenang seiring menuju ke arah hilir.

“Ayo pak, kita duluin mereka agak di depan, supaya bisa ambil gambar mereka dari depan,” begitu kataku ke motoris ketinting. Tapi yang ada, si pesut seperti mengajak petak umpet. Dia tak muncul-muncul juga di permukaan sebagaimana perkiraan kami. Alhasil, tahu-tahu, mereka muncul sudah jauh di depan sana. Aih, jadi lah kami seperti berkejaran saja dengan mereka.

Mas Innal menyampaikan kalau dari hasil monitoring Yayasan Konservasi Rare Aquatic Spesies of Indonesia (RASI) di tahun 2015, jumlah pesut diperkirakan tinggal 75 ekor saja di sepanjang Sungai Mahakam. Sebagian besar muncul di perairan Kutai Kartanegara, yaitu antara Kota Bangun dan Muara Kaman.

Nah bisa dibayangkan bukan, dengan hanya 75 ekor di Sungai Mahakam yang panjangnya hampir 1.000 km, atau tepatnya 980 km itu. Layak kalau mamalia ini susah ditemukan lagi. Jadi betapa beruntungnya kami siang itu bisa bertemu dengan hewan ini.

Btw, aku kok malah jadi kepikiran ya, apa yang terjadi 10 tahun lagi pada mereka, ketika manusia semakin banyak dan menggerus habitat pesut-pesut Mahakam? Kapan-kapan aku cari tahu ya. Akan aku tulis juga di sini.

Tetaplah menjaga lingkungan hidup kita. Jangan lupa berkontribusi untuk konservasi.

Untuk cerita-cerita perjalanaku lainnya bisa dibaca di Instagram dan twitter: ï¼ NINAYUSAB.

#PesonaIndonesia #PesonaKutaiKartanegara #WonderfulIndonesia #PesonaErau2017 #VisitKukar #Traveller #Traveler #TravelBlogger #Blogging #Blogger #Trip #Kaltim #VisitKutaiKartanegara #Nature #InstaTravel #BKSDA #KonservasiAlam #KalimantanTimur #Samboja #Conservation #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén