Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Blog Walking Bareng “The Dubbers” versi John Bambang

Boleh dikata, FAM Trip Blogger ke Festival Lovina kemarin ini paling seru. Aktifasi Blogger Kementerian Pariwisata ke Bali Utara ini punya warna tersendiri. Blogger yang berangkat rata-rata masih sangat muda. Aku saja kali ya yang paling tuwir. Hiks.

Lihat saja ada Nanda dari travelmulu.com, Ratrichibi dari ratri.net, Adis dari whateverbackpacker.com, Laras dari indonesia.travel, Gede Sumadi dari wonderfulnusapenida.com, Maha dari mahayanthi.wordpress.com, dan Luh De dari balebengong.net, semuanya lucu-lucu banget.

Bukan aku dong kalau nggak bisa mengimbangi guyonan mereka (apa sih ini…hihi). tapi asli, blogwalking bersama mereka kemarin itu sepanjang jalan guyon tak henti: bahas lagu jadul yang notabene kontradiktif dengan usia mereka saat ini yang masih ‘bau kencur’ dibandingkan golden song, sampai menjadi dubber untuk urusan remeh temeh macam ‘mas bambang’ yang secara nggak sengaja kita amati bareng di Pasih Andus alias Smoked Beach. Tentu saja provokatornya tak lain dan tak bukan adalah Ain Mushalin, tour leader ala-ala itu.

Pemicunya sih remeh banget. Saat lewat jalanan tandus di Nusa Penida misalnya, di samping kanan kiri jalan kadang ada tanaman widuri yang biasa menghias pantai. Sekali aku menyebutkan, bahwa itulah tanaman widuri dengan bunganya yang berwarna ungu keperakan. Habis itu,langsung judul teman-teman ngecipris bahas lagu jadul “Widuri” yang dilantunkan Bob Tutupoli. Merambat ke lagu “Setangkai Anggrek Bulan” sampai lagunya Koes Ploes yang “Bunga di Tepi Jalan”. Tahu dong itu lagu jaman kapan? Aku saja yang kepala empat nyaris lupa judulnya, meskipun nada masih ingat dikit-dikit. Eh, sementara mereka yang kelahiran 90an ini setidaknya hafal reff-nya! Hebat!

Mas ‘John’ Bambang
Urusan John Bambang ini lebih nggak ketahuan juntrungnya lagi. Tapi inilah moment paling bikin ngakak karena tiba-tiba semua nyaru jadi dubber sekedar mengisi ‘film bisu’ di depan kami-kami.

Kejadiannya di Pasih Andus atau sering juga disebut Devil’s Tears atau juga Smoke Beach. Pantai yang sama Adis bakal dinamain Adis Cliff ini adalah destinasi kami setelah Pasih Uug dan Angel’s Billabong.

Entah kenapa kami siang itu betah di Pasih Andus. Padahal, saat itu terik matahari luarbiasa menyengat kulit. Padahal, tak ada bangunan atau sekedar atap untuk kami berteduh. Kami bahkan hanya duduk di bawah bayang pandan laut yang tak seberapa besarnya. Otomatis semua duduk berdekatan, melihat laut, sambil setengah melamun nungguin ombak yang menghempas keras bertemu dengan semburan uap yang berbalik karena terdapat gua cukup besar yang mendorong kembali dengan uap yang terperangkap. Hasilnya adalah suara yang mengulung dengan hempasan ombak yang terpecah menjadi butiran air yang halus serasa asap kabut. Mirip waterblow di Nusa Dua.

Betah rasanya diam di situ berlama-lama. Bisa jadi karena sebagian sudah kelelahan karena mendekati deburan kabut air di bawah di atas karang-karang. Tapi, mungkin juga karena kami gamang juga mau naik di tengah terik semacam itu.

Tiba-tiba di tengah sepi pantai, datang seorang bule yang dengan lincah menyeberangi karang demi karang ke dekat hempasan Smoke Beach. Kami dari jauh mengamatinya. Bagaimana nggak mengamati, satu-satunya pemandangan saat itu tuh dia ini. Kami layaknya menonton film bisu dengan efek suara deburan ombak saja.

Entah siapa yang memulai, aku tidak ingat, tiba-tiba kita jadi dubbers dengan script sangat terbuka memberikan interpretasi bebas ke paparan pemandangan di depan.

“ati-ati lho mas, mengko ceblok,” demikian celetuk Ratri. Artinya kira-kira: “Hati-hati mas, nanti jatuh”

Tak lama kemudian kami masing-masing sahut menyahut dengan bahasa Jawa yang medhok. Untungnya teman-teman Bali juga paham kata-kata Jawa, karena banyak sekali kosa kata yang mirip. Tapi berikut aku coba translate ke Bahasa Indonesia, meskipun berkurang sense lucunya.

“Jangan gaya-gaya, mendekat ke semburan airnya, nanti basah!”
“iya, Mas bambang, nanti jatuh lho!”

Nah lo, tiba-tiba si bule kita namain Bambang!

Celetukan makin menjadi saat kami amati Mas Bambang in action siap-siap mengcapture si waterblow di Pasih Andus ini, sementara si ombak nggak datang-datang. Ada kali dia lima menit nungguin ombak.

“tuh kan, ombaknya kagak muncul. Mas Bambang sih”

Jadilah Setiap celetukan bikin gerrrr, ngakak. Ada yang berperan menjadi Bambang, ada juga yang jahilin dia. Lengkap wis.

Sementara si subyek yang kami bahas adem ayem, wong nggak mendengar kata-kata kita kok. Bahkan si bule, sebut saja kemudian namanya JOHN BAMBANG, malah terus berjalan dengan santainya, meloncat-loncat di antara karang tajam ke balik bukit yang tidak kami jamah. Kita tungguin dia beberapa saat. tapi tunggu tetap tunggu, dia tidak muncul-muncul juga!

“Wadhuh, jangan-jangan dia jatuh,” celetukku
“Jangan nggaya mas Bambang, ayo kesini, nanti hilang lho” ujar yang lain.

LOL lagi. Hihi, asli. Sayang aku tidak sempat foto ‘Mas Bambang’. Dan semoga dia cukup berlapang dada telah kita isi suara lakonnya sesuka hati.

Bahagia itu ternyata sederhana. Kumpul saja sama teman. Tanpa pretensi, tanpa tendensi. Tertawalah.

#SalamBambang

#LovinaFestival #PesonaBali #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #PasihAndus #PasihUug #AngelBIllabong #BloggerTravel #Traveler #Sederhana #Bahagia #Teman #BlogWalking #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén