Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Hongkong, Kota Vertikal Di Dunia

Hong Kong

Yupp, sebutan itu sepertinya cocok untuk kota yang satu ini. Hong Kong yang berada di tenggara semenanjung Cina ini kaya dengan gedung pencakar langit dengan ketinggian yang cukup bikin lutut kita lemes kalau berdiri di rooftop-nya.

Nah, saat diundang Member Langsungenak Hong Kong, aku sempatkan kelilingan di kota ini di hari pertama. Mau tau catatanku soal Hong Kong? Coba ikuti tulisanku beberapa hari ke depan ini.

Hong Kong adalah kota vertikal. Kota yang terus membangun ini seperti haus lahan. Begini, bayangkan dulu Hong Kong itu berupa lahan datar antara gunung dan laut. Jarak gunung ke laut ini cuma sekitar 13 km. Untuk bertumbuh, pegunungan yang bercadas digarap habis. Reklamasi untuk perluasan daratan juga dilakukan terus menerus, dan nyaris tanpa protes. Tahu dong, kata reklamasi di negara kita seperti jadi momok atas nama lingkungan hidup. Tapi, di Hong Kong sepertinya itu justru disambut sebagai kemajuan karena berpotensi meningkatkan kesejahteraan. Reklamasi di kota ini berarti akan ada perluasan aktifitas dan potensi peningkatan jumlah perkantoran ataupun apartement yang dibutuhkan pemerintah setempat.

Reklamasi di Hong Kong

Reklamasi di Hong Kong

Hong Kong bisa dikatakan sebagai kota dengan pencakar langit terbanyak di dunia. Bahkan, kalau mengacu ke Wikipedia, 36 dari 100 bangunan tempat tinggal tertinggi, ada di sini. Memang, semua penduduk nyaris tinggal di gedung bertingkat. Jarang sekali rasanya menemukan single house di sini. Bahkan, perkantoran dengan bangunan bertingkat dua saja, rasanya sudah langka. Semua bangunan baru, seperti berlomba menembus langit. Gedung-gedung tua memang masih bisa kita temukan di Tsim Sha Tsui dekat Clock Tower, Central Police Station, dan di sebagian Kowloon Walled City. Sisanya, dinding beton yang kalau untuk melihat ujungnya, leher kita harus menengadah kuat. Siap-siap sakit leher deh.

Untuk gedung perkantoran dan bisnis, International Commerce Centre (ICC) dan International Finance Centre adalah yang tertinggi di Hong Kong. Tapi aku yakin, ini tidak akan bertahan lama, mengingat kota yang berdiri di antara pegunungan dan laut ini tak kenal lelah terus membangun. Intinya, seluruh permukaan Hong Kong adalah gedung beton. Kalau tidak untuk perkantoran, berarti untuk tempat tinggal. Kota ini tumbuh ke atas, bukan menyamping. Vertikal.

Datang ke Hong Kong, menghilangkan stigma burukku terhadap kota besar. Kota besar macam Jakarta membuat trauma berada di jalan raya. Hirup pikuk mobil dan kemacetan di mana-mana. Tata kota yang tidak terintegrasi menjadikan konsentrasi populasi tidak terarah yang berandil terhadap sumpeknya kota. Di Hong Kong, kekacauan semacam ini aku lihat minimal. Semua orang mematuhi aturan. Menyeberang jalan ada tempat dan waktunya. Kendaraan tak ada yang saling serobot, padahal isinya angkot dan bus umum. Bisa dong membayangan hancur leburnya jakarta akibat ulah sopir angkot dan bus yang nge-tem dan ugal-ugalan. Itu, pemandangan langka di Hong Kong.

Lahan terbuka hijau dengan mudah dtemukan di Hong Kong

Lahan terbuka hijau dengan mudah dtemukan di Hong Kong

Dan, jangan salah, meskipun kota ini bisa dikatakan taman beton, tapi banyak lahan terbuka hijau yang membuat mata lumayan adem. Keteraturan mewarnai kota ini, membuat emosi lebih tenang meskipun berada di situasi yang serba cepat. Entah, bisa jadi karena aku baru pertama datang ke kota ini, sehingga belum menangkap penyakit yang biasanya melanda kota besar. Cuma, bisa jadi penilaianku benar, nyatanya harapan hidup di kota ini sangat tinggi. Mana ada sih manusia tidak bahagia hidup lama kan? Jadi, bisa jadi pengamatan sesaatku cukup mencerminkan penilaianku.

Aih, andai Jakarta bisa seperti Hong Kong? *menanam mimpi… *

#HongKong #VisitHongKong #JalanJalan #Traveller #Traveler #TRavelBlogger #Blogging #Bloger #TradeCity #VictoriaPark #Angkot #AngkutanUmum #Langsungenak #LEHongKong #MemberLangsungenak #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén