Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Memacu Adrenalin Di Titian Mata Air Guyangan

Kalian yang suka tantangan, ada track wajib untuk dijajal: turun ke Mata Air Guyangan. Mata air ini terletak di bagian selatan  Nusa Penida, Bali. Butuh mental baja untuk menuruni tebing yang tegak lurus itu. Mana dasar tebing telah menanti hempasan ombak Samudra Indonesia yang siap menelan dan menyeret kita kalau salah menapak dan jatuh. Suara ombaknya saja dari atas tebing sudah kedengaran sayup-sayup terbawa angin. Menggelegar!

Ups, bukannya mau nakut-nakutin ya. Aku cuma ingin memberi gambaran betapa track ini cukup berbahaya. Berhati-hatilah saat meniti ratusan tangga baik ke bawah maupun naiknya nanti. Siap-siap saja berjuang meniti tangga-tangga ini. Yah, sekitar 800 an step lah. Kalikan saja dua kalau naik dan turun. Sudah begitu kemiringan tangga bervariasi, ada yang nyaris tegak lurus, meskipun di beberapa bagian cukup landai.

Lutut Kosong
Nah sekarang aku mau cerita pengalamanku sendiri pas jajal track ini. Karena track sangat ekstrim dan panjang, guide kami, Bli Budaya dari Bali Reservasi menunjukkan terlebih dahulu keekstriman tebing. Setelah melewati jalan menaik yang cukup sempit dan berkelok, kami sampai di pertigaan kecil. Ada tanda arah ke kanan ke Mata Air Guyangan, sedangkan ke kiri ke Pura Sekar Kuning. Kupikir mobil akan ke kanan, langsung ke Mata Air Guyangan. Nyatanya, mobil malah berbelok ke kiri.

“Kok belok kiri, Bli?” tanyaku.
“Iya, akan kita tunjukkan terlebih dahulu sekestrim apa tebing itu dari arah Pura Sekar Kuning. Dari sana, teman-teman bisa memutuskan akan turun ke mata air atau tidak,” jawabnya.

Rupanya Bli Budaya ingin kami memahami track yang akan kami tempuh itu. supaya nanti, secepat kami memutuskan turun, tak ada keraguan lagi. Harus terus, sampai ke step paling bawah. Harus sampai ke Mata Air Guyangan. Kudu siap mental lah. Tak boleh setengah hati.

Demikianlah, mobil pun menuju ke Pura Sekar Kuning. Dari dekat pura kami bisa melihat tebing di mana Mata Ir Guyangan berada. Dari sisi ini kami bisa melihat betapa tebing itu tegak lurus. Dipastikan dari bibir tebing, kita tidak dapat melihat ke dasar, kecuali kita menuruni anak tangga yang lamat-lamat dari Pura Sekar Kuning terlihat warna titian yang kebiruan.

Sempat ciut juga hati ini melihat tebing yang garang dengan ombak ganas yang menerpa di bagian bawahnya. Tapi, mengingat saat ini aku sudah di Nusa Penida, dan kemarin sudah ‘kalah’ tak turun ke Angel’s Billabong, aku bulatkan tekad: Aku harus menuruninya. Aku harus sampai ke Mata Air Guyangan. Demikian hatiku berkata.

Tak berlama-lama di Pura Sekar Kuning, kami pun segera meluncur ke lokasi awal untuk menuruni Mata Air Guyangan. Kurang dari 10 menit mobil kami telah sampai. Terlihat sebuah bangunan putih dengan aksen biru. Aku sudah beberapa kali mengerjakan pekerjaan dari BPP SPAM, langsung aku bisa menduga apa fungsi bangunan ini: bangunan mesin pompa air PDAM. Asumsiku, pompa ini berguna untuk menaikkan air baku dari Mata Air Guyangan!

Bli Budaya, guide kami saat di Nusa Penida menerangkan Mata Air Guyangan memang menjadi salah satu sumber air di pulau ini, di kelola oleh PDAM Klungkung. Nah, tak jauh dari bangunan PDAM, terdapat gerbang bertuliskan Pura Segara Kidul. Segara Kidul berarti Laut Selatan. Dari gerbang inilah pintu masuk ke Mata Air Guyangan.

pintu masuk pura segara kidul, untuk menuju ke mata air guyangan

Benar saja. Seperti yang aku gambarkan di atas, tangga turun yang ekstrim menciutkan nyali. Beberapa blogger bahkan memutuskan untuk tak menuruninya. Hujan gerimis menambah suasana menjadi agak mencekam. Tintrim. Tangga menjadi licin, sehingga kami tak dapat melangkah bergegas. Harus menapak hati-hati agak tak tergelincir dan terjun bebas. Aku pun berusaha menjaga keseimbanganku. Satu demi satu step tangga aku langkahi. Aku bahkan tak berusaha menghitung banyaknya anak tangga. Sudah tak kupedulikan lagi. Aku hanya ingin turun dan turun, dengan selamat.

ratusan anak tangga harus ditempuh, sebagian posisinya nyaris tegak lurus” width=”338″ height=”450″ /> ratusan anak tangga harus ditempuh, sebagian posisinya nyaris tegak lurus

Setidaknya sudah 30 menit langkah kakiku menyeret tubuh besarku ini. Konsentrasi penuh. Sambil menapak turun, aku perhatikan di sepanjang tangga terdapat pipa besar, sepertinya untuk mengalirkan air. Dari sini, rasa penasaranku semakin terjawab. Aku yakin, track tangga ini bukan untuk keperluan wisata sebenarnya, tapi lebih untuk kepentingan pemeliharaan jaringan air baku bagi PDAM. Namun demikian, kenyataan ini tak menyurutkan tekadku untuk turun ke Mata air Guyangan. Kepalang tanggung.

Saat sampai di bawah, kaki menapak karang yang lumayan datar. Aku disambut deburan ombak laut selatan yang menggelegar. Nafas lega rasanya bisa menginjak bumi. Hempasan demi hempasan ombak terasa tepat berada di bawah kaki kami. Maklum, jarak bibir tebing terdekat dengan laut sekitar 5 meter saja. Hembusan angin menerpa tubuh, membuat terhuyung karena kaki masih gemetaran usai menuruni tangga.

kupejamkan mata, kudengar gelegar ombak laut selatan menyambutku

Sambil mengatur nafas dan meredakan kegamanganku, kupejamkan mata sejenak. Kuberi kesempatan inderaku yang lain untuk menyecap alam di sekitarku. Kuserap kekuatan karang yang tetap tegak meski terhempas ombak. Dan ketika siap, kubuka mataku kembali. Kutangkap kekuasaan Tuhan yang ada di depanku. Ombak menghempas di sebelah kananku. Tebing karang di sebelah kiriku. Aku lihat dari beberapa titik di karang-karang ini mengalir air tawar tanpa henti. Air ini mengikuti rayuan gravitasi, mengalir turun ke laut. Bening. Menyejukkan.

Pura Segara Kidul
Bila diperhatikan, area Mata Air Guyangan terbagi dua: Satu bagian, sebut saja area pertama, merupakan instalasi PDAM lengkap dengan bak tandon air buatan. Jika kita lebih maju lagi, terdapat area kedua, yaitu Pura Segara Kidul. Kedua area ini dibatasi gapura yang terbuat dari batu hitam.

Kita bebas cuci kaki, mandi, bahkan minum dari pancuran area pertama. Bli Budaya menerangkan air di Mata Air Guyangan ini memiliki PH lebih tinggi daripada air kemasan biasa. Sedangkan di area pura, disarankan kita tak mengotori kolam-kolam kecil yang terbentuk secara alamiah. Air di area pura disucikan dan dianggap sakral.

Seperti layaknya pura yang lain, Pura Segara Kidul pun menyediakan tempat untuk umat hindu beribadah. Di sini terdapat tiga altar terpisah yang melambangkan kehadiran Wisnu, Brahma, dan Siwa. Di sebelah altar Siwa terdapat patung Ratu Diah Dewi, sang penguasa laut selatan. Patung itu sewarna gading dengan asesoris dan baju hijau.

salah satu altar di Pura Segara Kidul, terdapat patung Ratu Diah Dewi – Penguasa Laut Selatan

Meski bukan penganut agama Hindu, aku bisa merasakan kesakralan dari tempat ini. Apa ya, suasana di mata air, khususnya di pura begitu magis. Mungkin karena aku merasa, saat berdiri di karang ini, dekat dengan dasar tebing, lengkap dengan ombak yang menderu-deru, semua membuatku merasa ‘kecil’. Betapa aku cuma manusia, yang jauh dari layak untuk menerima anugrah Tuhan berupa alam yang luarbiasa.

Sejenak aku biarkan diriku larut dalam sihir spiritual itu. Dan perlahan aku kumpulkan ‘nyawaku’ kembali. Kubangun tekad untuk sekali lagi menaklukkan track tangga Mata air Guyangan. Kali ini, untuk kembali ke peradaban di atas tebing sana. Bisa membayangkan melangkahi sekitar 800 tangga menaik, dan sebagian nyaris tegak lurus?

Aku bisa!

Aku bahkan tidak sekedar membayangkan saja. Aku sudah menaklukkan tantangan track ini. Untukku itu sebuah capaian, bagaimana dengan kalian?

#LovinaFestival #PesonaBali #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #VisitNusaPenida #MataAirGuyangan #VisitBali #BloggerTravel #Travel #Traveler #PDAM #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén