Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Menanti Matahari di Gucialit

Gucialit adalah nama kecamatan yang terletak di lereng gunung Bromo-Tengger-Semeru. Di sini terdapat kebun teh yang dikelola oleh PTP XII Kertonowo. Banyak titik wisata yang bisa dinikmati mulai dari air terjun, treking mengelilingi kebun teh, downhill, sepeda gunung, dan sejumlah adventur alam terbuka lainnya. Maklum, suasana kebun teh seru untuk camping, outbond dll. Tapi kami, tertarik untuk mengintip matahari terbit yang konon indah dari KBR atau B74.

Aku dan kawan-kawan sampai di Gucialit malam hari. Rencananya pagi jam 4 kami akan dijemput kendaraan 4×4 untuk memulai hari. Untuk ke sunrise view point memang dibutuhkan kendaraan jenis ini karena jalanan cukup terjal dan tak beraspal. Hm, bisa sih membayangkan jalanan becek akibat hujan yang beberapa waktu turun. Meski tidak lebat, tapi aku yakin cukup membuat jalanan berlumpur dan licin.

Kulihat teman-teman masih bersendagurau, ngegosip sambil loading hasil foto mereka sesiangan tadi. Colokan listrik jadi primadona kalau sudah begini. Semua gadget harus di recharge untuk persiapan besok pagi. Siapa cepat dia dapat colokan terdekat. Yang tidak kebagian, terpaksa mengeluarkan T, demi tambahan colokan baru. Sudah itu saling berebut kamar kecil. Aih, suasana yang khas ketika kami pergi bersama-sama seperti ini. Suasana yang mengeratkan persahabatan. Ngeriung, sampai mata berat dan akhirnya lelap.

Jam 03.30 WIB beberapa jam weaker berbunyi. Kudengar kehidupan di kamar sebelah. Beberapa teman mandi, meski udara cukup dingin. Sisanya memutuskan untuk tidak, termasuk aku. Barang yang harus dibawa sudah masuk tas. Meski dingin, hawa tak terlalu menggigit. Tiga buah jeep sudah menunggu di depan penginapan, tapi kami masih menunggu satu jeep lagi, yang akhirnya datang juga, meski terlambat 30 menit.

Niat yang semula mau ke B74 terpaksa pupus mengingat waktu yang tak mungkin untuk mengejar kesana. Akhirnya tujuan dialihkan ke KBR. KBR ini singkatan dari Kampung Baru. Salah satu view point sunrise yang direkomendasikan.

Kondisi jalan seperti yang kita perkirakan, berlumpur. Di beberapa tikungan roda jeep sempat berdecit mengantisipasi medan supaya tidak terperosok. Untung teman-teman driver dari Komunitas G’OWA (Gucialit Organisasi Wisata Alam) cukup sigap mengatasi kondisi ini.

Sepanjang jalan, dalam gelap kami melihat pohon teh dari berbagai usia di sana sini. Teman-teman masih terdiam. Nyawa sepertinya belum ‘kumpul’. Semalam kami memang tidur terlalu larut.

Kami terjaga penuh saat jeep berhenti di kaki sebuah bukit. Wah, musti jalan menanjak lagi. Padahal kaku otot kakiku belum juga pulih sejak dari Tumpak Sewu kemarin. Perlahan aku meniti tanjakan demi tanjakan. Di atas, di antara temaram pagi, aku lihat sebuah saung sudah menanti. Ah, pasti nikmat duduk di situ nanti kalau sudah sampai di atas. Pikiran itu membuatku lebih semangat lagi berjalan, hingga sampai di puncak bukit KBR.

Suasana di atas begitu indah. Matahari sebentar lagi pasti muncul dari balik Gunung Lemongan. Aku sudah melihat gurat cahayanya. Tapi yang membuatku terpukau adalah hamparan hijau pohon teh yang membentang sejauh mata memandang. Pohon yang berbaris dalam sebuah keteraturan, dengan setapak yang menggaris di antara pohon yang ditanam berdektan. Jajaran demi jajaran membentuk lukisan.

menanti matahari muncul itu sesuatu banget. romantisme pengharapan masa depan.

Kutarik nafas panjang. Hawa segar segera menyergap paru-paruku. Aku penuhi setiap relungnya dengan oksigen yang menyeruak masuk hingga ke bilik yang paling dalam. Andai udara Jakarta sesegar ini.

Sejenak kami berdiam di KBR. Selfie sana sini. Sesi foto bareng-bareng juga. Sambil menunggu matahari.

perempuan di kebun teh…

Seorang penduduk yang melintas menyapa kami. Dari bajunya sepertianya ia adalah salah satu pemetik teh. Garis wajahnya yang sudah berumur sangat khas. Ia bercerita sebentar lagi akan memanen pucuk teh dengan menggunakan mesin. Ia mencari tahu kami darimana. Kami berbincang sebentar. Namun si bapak segera pamitan untuk mencari teman-temannya.

Tak lama dari itu kami turun menuju ke mobil jeep. Dan di dekat jeep si bapak rupanya menunggu kami dengan setandan kecil pisang. Entah pisang apa, kami belum pernah melihatnya. Tapi yang jelas pisang-pisang itu sudah matang dan siap dimakan. Beliau menolak kita ganti dengan uang. Ia mengatakan sudah senang melihat kami datang ke kebun ini.

Aih. Sebuah kemewahan menemukan ketulusan dan keramahan semacam ini di Jakarta. Dan kami pun berterimakasih sekaligus pamitan.

Kebun Teh Kertonowo
Kebun Teh Kertonowo di Gucialit ini menawarkan tak hanya kekayaan alam. Tapi juga tour produksi teh hitam. Teman-teman memutuskan untuk sarapan dulu sebelum masuk pabrik. Keputusan yang akan kami sesali kemudian.

Tour proses pembuatan teh tidak terbuka untuk perorangan, tapi tersedia bagi group atau kelompok masyarakat dan komunitas umum. Terdapat larangan untuk mengambil gambar di dalam pabrik, baik memakai kamera ataupun sekedar gadget hp. Aturan ini disampaikan sejak awal sebelum melihat proses produksi. Kami yang datang ke pabrik jam 10 pagi terpaksa gigit jari karena proses awal berupa pencucian dan pelayuan sudah selesai. Hiks. Apaboleh buat.

Akhirnya tour dimulai dari area pelayuan dimana daun–daun teh biasanya dihampar di meja-meja panjang dengan blower dari arah bawah. Setelah itu kami melihat proses fermentasi. Semua diterangkan termasuk proses pengendalian mutu, dimana teh dicicip. Kami bahkan diajari Pak Muji, salah satu administrator kebun untuk mencicip teh-teh ini. Mencecap teh ternyata ada tekniknya. Kami harus menyeruput kuat agar rasa dan aroma teh tersesap dengan baik. Masing-masing kualitas memberikan aroma dan rasa berbeda. Tapi jangankan merasakan. Aku bahkan gagal menyeruput teh itu. Hisapanku kurang kuat. Ada sebagian teman yang bisa, ada yang gagal kayak aku. Ternyata tidak mudah menjadi ahli teh. Tidak mengherankan jika ada pelatihan khusus untuk kekahlian yang satu ini.

belajar mengenali kualitas teh dari ahlinya

Untuk diketahui, Kebun Teh Kertowono memproduksi teh hitam dengan merek Cap “GAJAH”. Teh hitam ini diekspor ke luar negeri. Penjualan dilakukan dalam bentuk lelang di pasar komoditas. Harga berfluktuasi sesuai harga pasar dunia. Teh hitam Kertonowo bisa digolongkan sebagai kualitas baik.

Dari Pak Muji kami memperoleh informasi bila kebun teh di Lumajang ini telah ditanam ditanam sejak tahun 1910 oleh NV Ticderman Van Kerchen (TVK), sebuah perusahaan milik pemerintah Belanda yang membuka lahan itu sejak 1875. Sedangkan pemrosesannya menggunakan teknik CTC (Crushing, Tearing, Curling).

#PesonaIndonesia #KebunTehKertonowo #Gucialit #KebunTeh #PetikTeh #VisitLumajang #Traveller #TravelBlogger #Instagramer #NinaYusab #PabrikTeh #PTPXII

Keterangan Feature Image: Sekedar bergaya di Kebun Teh Kertonowo – Gucialit (Capture: Sendy Aditya Saputra)

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén