Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Menyadap Lidah Rasa Suku Osing, Banyuwangi

Suku Osing di Banyuwangi tinggal di beberapa desa, khususnya di Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Jawa Timur. Namun, kekentalan adat budaya yang dianggap masih terpelihara secara otentik, hanya ditemukan di Desa Kemiren, termasuk cara memasak dan mengolah makanan khas suku tersebut, seperti: Pecel Pitik, Uyah Asem, Lepet, Sambel Serai, dan Sumping Pati.

Pecel Pitik ini biasanya hanya dibuat untuk upacara adat, sebagai sesajen. Bentuknya lebih mirip urapan. Hanya saja bila urapan si kelapa dicampurkan dengan sayur kuluban, maka Pecel Pitik ini yang diurap adalah ayam kampung yang terlebih dahulu dipanggang dan disuwir-suwir. Kelapa yang digunakan pun tidak dikukus terlebih dahulu, melainkan kelapa setengah tua yang diparut dan diurapkan mentah. Rasanya? Jangan tanya. Untukku, aduhai banget. Sedap sangat.

pecel pitik, ayamnya diasap dulu di tungku kayu

mengasap ayam untuk pecel pitik, menggunakan tungku kayu di dapur masyarakat kemiren

Sementara Uyah Asem juga terbuat dari ayam kampung yang dimasak berkuah dengan rasa khas bongkot kecombrang. Kecombrang disebut orang Osing dengan nama: Lucu. Bumbunya minimalis. Untuk memsak 1 ekor ayam, penggunaan bawang merah dan bawang putih cuma 1 siung saja. Sisanya adalah cabai rawit dan cabai merah. Urusan penyebutan cabai ini juga seru. Suku Osing menyebut cabai rawit dengan nama Lobok Lithik (lombok riwit), sedangkan cabai merah disebut Lobok Jowo (lombok jawa). Sesuai namanya: Uyah Asem, rasa dari masakan yang satu ini segar asam. Asam diperoleh dari belimbing wuluh dan bongkot lucu tadi.

uyah asem salah satu makanan khas Banyuwangi

Untuk lepet, tak jauh dari lepet di tempat lainnya, bahan utamanya adalah beras ketan dan kelapa. Yang membedakan, lepet di Desa Kemiren ini menggunakan kacang tanah untuk isinya. Enak? Iya lah.

lepet dan kacang, snack lokal yang ngangenin

Sekarang mari kita kulik Sambel Serai. Sambel serai ini disajikan dengan kuluban daun semanggi. Daun yang dianggap gulma sawah ini, dikukus saja. Sementara sambalnya terbuat dari serai muda – bagian putihnya saja, lobok lithik, loboh jowo, terasi, belimbing wuluh, dan kemiri. Lagi, untukku rasanya sedap sekali.

sambal serai dengan kuluban daun semanggi, sedap banget

Terakhir dari sadapan rasa a la Desa Kemiren, yang menurutku tak kalah enak adalah Sumping Pati. Sumping Pati ini masuk jajaran jajanan tradisional. Bentuk luarnya lebih mirip lemet. Itu, jajanan khas Jawa yang terbuat dari parutan singkong dan kelapa muda. Bahannya pun mirip.

sumping pati, rasanya manis, terbuat dari singkong dan parutan kelapa.

Menurut salah satu tetua desa, Pak Cip, Sumping Pati ini jarang sekali disajikan karena satu bahannya adalah sagu aren. Sagu jenis ini susah sekali ditemukan, dan susah digantikan, Katakanlah diganti dengan sagu singkong/tapioka/kanji, maka rasanya akan berbeda. Beruntung, kemarin saat mampir ke desa adat ini, aku mendapatkan kesempatan langka tersebut. Kurasakan Sumping Pati dari tangan pertama pembuatnya, yaitu istri Pak Cip.

Resep Pecel Pitik | Resep Uyah Asem | Resep Lepet | Resep Sambel Serai | Resep Sumping Pati

#PesonaBanyuwangi #PesonaIndonesia #OsingBanyuwangi #VisitBanyuwangi #Langsungenak #NinaYusab #BloggerTravel #travelling #traveling #trip #blogging #Traveller #Food #FoodTraveller #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén