Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Pasih Uug, Pantai Berlegenda di Nusa Penida

Dua hari menjelajah Nusa Penida serasa kurang. Pulau yang terletak di sebelah timur Pulau Bali ini memiliki destinasi wisata alam yang cukup banyak, khususnya wisata pantai. Sebut saja Pasih Andus atau Smoke Beach, Pantai Atuh, Chrystal Bay, Angel Billabong, dan tentu Pasih Uug. Pasih Uug inilah yang akan aku ulas di sini. Kita mulai saja ya.

Nusa Penida
Pulau ini masuk wilayah Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Kecamatan ini terdiri dari 3 pulau kecil di timur Pulau Bali, yaitu: Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, dan Nusa Penida.

Nusa Penida berpenduduk sekita 60.000 kepala keluarga. Daerahnya tandus. Meskipun tak jauh dari Pulai Bali, hanya sekitar 40 menit menggunakan fastboat, tapi nyatanya pembangunan di pulau ini cukup lambat. Jalanan tak semua halus, bopeng-bopeng bahkan, kayak mukaku kalau pas jerawatan kali ya.

Ketika boat Maruti Express kami berlabuh di dermaga, segera barang kami naikkan ke mobil jemputan. Dan mulailah petualangan kami menuju ke Pasih Uug.

Pasih Uug artinya Pantai ‘Rusak’, atau sering disebut juga sebagai Broken Beach. Sebutan ini muncul bisa jadi karena bentuk pantai seperti ada bagian karangnya yang ambrol alias runtuh. Dari atas kelihatan ada lobang besar yang dipenuhi ombak setiap angin menghempas air. Maklum, ada bagian karang yang menghadap pantai dan bolong, sehingga menjadi pintu bagi masuknya ombak ke bagian dalam. Sayang, dalam blogwalking kali ini tidak ada blogger yang membawa drone. Apa perlu ya nanti aku pinjamkan gambar dari blog lain, biar punya gambaran bentuknya dari atas? *mikir*

Legenda Pasih Uug
Hancurnya bagian karang yang saat ini seperti lubang besar di Pasih Uug itu memiliki legenda. Dari cerita pemandu tour kami, Bli Budaya, bagian pantai yang utuh itu dulu sebuah desa, hingga terjadi kejadian luar biasa di desa tersebut.

Nun, dahulu kala, masyarakat desa menemukan gundukan memanjang seperti akar pohon besar yang muncul tiba-tiba di desa tersebut. Merasa terganggu, mereka mengiris gundukan tersebut. Irisan terasa seperti daging. Penduduk desa semakin semangat mengiris-iris dan membagi-bagikannya ke seluruh penduduk. Bahkan saking banyaknya, sebagian mereka bawa ke luar desa dan menjualnya.

Malam menjelang, pagi pun datang. Seorang anak yang tidak mereka kenal datang ke desa. Anak misterius itu bertanya, siapa yang telah membunuh peliharaannya. Tak seorang pun mengaku. Entah kenapa ada rasa dingin ketika mereka menatap mata anak itu. Ketika sudah bertanya berkali-kali dan tidak ada seorang pun penduduk desa yang mengaku, anak kecil itu mengeluarkan 3 batang lidi dan menancapkannya di atas pasir di tengah desa.

“Bila ada yang bisa mencabut lidi ini, berarti memang tidak ada yang membunuh peliharaanku.”

Dan berduyun-duyun penduduk desa mencoba mencabut lidi itu. Alhasil, setelah tua muda, kurus besar, anak-anak sampai dewasa mencoba mencabut, tak ada seorang pun yang berhasil. Anak itu pun marah, mengatakan semua penduduk desa pembohong, dan kemudian ia mencabut 3 lidi itu sendiri. Tanah yang berada di bawahnya kemudian ambrol. Runtuh. dan menjadi lubang sebagaimana kondisinya saat ini. Desa menghilang. Seluruh penduduknya pun diperkirakan terbawa ombak laut selatan. Anak itu pun tak ketahuan rimbanya. Hilang tanpa bekas.

Ketika penduduk yang menjual irisan ke desa lain kembali ke rumahnya, ia hanya mendapati sebuah lubang besar. Desanya lenyap. Konon, dari tuturnya lah legenda ini berasal.

Kini, Pasih Uug menjadi andalan wisata Nusa Penida. Bentuknya yang khas dan cantik, memukau wisatawan. Air lautnya bening. Kita bisa melihat bagian dasar dari ‘reruntuhan’ pantai. Meskipun sebelumnya kami harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam, dengan pemandangan tandus sepanjang perjalanan, tapi saat sampai di Pasih Uug, terbayar sudah semua derita itu.

dasar pasih uug dilihat dari atas tebing karang

dengan mbak sukma, salah satu tour guide kami

Pasih Uug memukau dengan karangnya. Angin kuat menghembus, mengayun air jadi ombak besar yang saat menghempas karang berbuih-buih. Berjalanlah melingkari lubang besar, dan setiap sudut layak untuk dicapture. Untuk yang suka selfie, hati-hati kalau tidak siap, angin mampu mendorong kita jatuh. Saat kami sampai di Pasih Uug, angin memang sedang besar-besarnya. Nggak lucu kan, maunya selfie, kalau cuma jatuh. Masih bagus jatuhnya ke tanah, kalau jatuh ke lubang? Lubang cukup dalam lho, dan besar kemungkinan kalau jatuh, kita terseret ombak. Jadi, hati-hati lah. Waspada ya.

Angel’s Billabong
Nah, tak jauh dari Pasih Uug, hanya 300 meter saja berjalan kaki, kita bisa temukan Angel’s Billabong. Angels’s Billabong ini semacam cekungan yang terbentuk akibat ombak. Cekungan memiliki ‘pintu masuk’ gelombang yang cukup tinggi dan datar, sehingga saat ombak naik, air tertinggal di cekungan ini dan membentuk kolam. Bila tak banyak angin, permukaan kolam sangat tenang. Dasar kolam pun tak dalam, maksimal 2 meter, dan bagian pinggir bahkan tak sampai 1 meter.

angel’s billabong, kepengen rasanya berendam di sini berlama-lama

Aku membayangkan berenang di sini pasti menyenangkan. Sayang tiupan angin kencang menyurutkan nyaliku. Untuk turun ke Angel’s Billabong harus hari-hati. Sekali terpeleset, karang tajam siap mengoyak kulit. Dengan angin sekencang ini, beberapa dari kami memutuskan tidak turun. Jadi, duduk-duduk saja ya di atas, nonton Adis – si whateverbackpacker nyemplung dan berenang-renang…kepengen…hiks.

Apa boleh buat. Masih sehari lagi kudu ngider di Nusa Penida. Besok masih harus turun ke Mata Air Guyangan, yang konon track-nya cukup bikin keder. Jadi, kudu simpan energi dan tidak boleh terluka dulu. Sampai jumpa di tulisanku berikutnya ya.

#LovinaFestival #PesonaBali #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #NusaPenida #VisitNusaPenida #PasihUug #LegendaPasihUug #BrokenBeach #AngelsBillabong #BloggerTravel #Traveler #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén