Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Pesona Cagar Alam Pangandaran

Cagar Alam Pangandaran terletak di daratan paling Selatan dari pantai Pangandaran, berdekatan dengan area pasar dan kegiatan Pantai Timur maupun Pantai Barat. Sejak tahun 1932 sebenarnya kawasan seluas 497 di Pangandaran sudah ditetapkan sebagai Kawasan Suaka Margasatwa. Dalam perkembangan selanjutnya, sejak ditemukannya bunga Raflesia Padma di area ini, maka statusnya pada tahun 1961 diubah menjadi Cagar Alam. Pada tahun 1978 dilokalisasi area seluas 37,7 Ha sebagai Taman Wisata Alam.

Dua Akses Cagar Alam Pangandaran
Masyarakat dapat mengakses Cagar Alam Pangandaran (CAP) ini dari 2 arah. Pertama, adalah melalui jalan darat. Kita bisa masuk melalui gerbang yang berdekatan dengan Pantai Barat. Trackingnya lumayan juga, maklum, cagar alam ini konturnya cukup berbukit naik turun.

Kedua, kita bisa menjangkaunya dari laut, melalui Pantai Barat, naik perahu menuju Pantai Pasir Putih. Biaya sekali angkut antara Rp 15.000-Rp 20.000, tergantung seberapa banyak penumpang perahu. Jalur ini lebih singkat dan tidak terlalu membuang energi.

Beberapa waktu lalu, saat Famtrip Blogger Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, kami memilih jalur ini karena terbatasnya waktu. Kami menyewa dua buah perahu. Keputusan untuk menyewa perahu ini tidak salah, nyatanya dalam perjalanan berangkat menuju ke Pantai Pasir Putih, guide kami mengarahkannya terlebih dahulu ke lokasi yang biasa digunakan untuk upacara Sedekah Laut.

Bisa dibayangkan tidak, perahu kami berada di titik yang ‘sejengkal’ lagi berarti sudah di laut lepas. Daratan berada di belakang kita. Ombak bergulung mengayun perahu kami. Hati ini separuh takjub dengan keindahan laut itu. Di sisi lain, detak jantung berdegup membayangkan kekuatan lautan yang bisa menenggelamkan kami dengan cepat. Pengalaman yang luarbiasa menurutku.

alternatif menuju Cagar Alam Pangandaran dengan menggunakan perahu

Tak lama kemudian, perahu membawa kami menuju ke Pantai Pasir Putih. Dalam perjalanan itu kami melewati sebuah kapal besar kandas. Inilah kapal asing yang ditenggelamkan oleh Menteri Perikanan, Susi Pujiastuti. Mungkin untuk memberi peringatan bagi kapal asing lain kalau mereka masih berani melakukan ilegal fishing.

Tak lama kemudian, kami mendarat dan mulailah eksplorasi kami di Cagar Alam Pangandaran.

Pesona Alam Di Cagar Alam Pangandaran
Banyak hal bisa kita nikmati di Cagar Alam Pangandaran. Sedikitnya ada tujuh gua yang bisa dieksplor, yaitu: Goa Parat, Goa Miring, Goa Sumur Mudal, Goa Lanang, Goa Panggung, Goa Cirengganis, dan Goa Karang Bolong. Andai punya waktu cukup, ingin rasanya menjelajah semua goa itu. Tapi kami harus rasional. Kami harus memilih, dan pilihan kami akhirnya jatuh ke satu goa yang cukup mewakili, yaitu Goa Parat.

Goa Parat atau Goa Keramat konon merupakan petilasan dari Syeh Ahmad dan Syeh Muhamad. Keduanya adalah pangeran dari kerajaan Pananjung yang dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Pananjung.

Goa ini cukup panjang. Pintu masuknya dari arah hutan sempit karena terhalang karang cukup besar. Nama Parat tepat sekali diberikan ke goa ini. Parat dalam bahasa Sunda berarti tembus. Dan memang, Goa Parat bila ditelusuri akan tembus ke pantai.

Meski hanya mengeksplorasi satu goa saja, nyatanya cukup memenuhi rasa ingin tahu kita. Goa Parat memiliki beberapa kelebihan. Stalagtit dan stalagmitnya membentuk figure seperti: alat kelamin manusia, unta, dan gajah. Ada juga dinding bebatuan yang bila dipukul akan berbunyi seperti alat musik tradisional kendang dan gong.

Hewan yang hidup di sini antara lain kelelawar dan landak. Landak Goa Parat bahkan tak takut lagi dengan manusia. Mereka justru mendekat bila kita beri makan kacang-kacangan. Kalau dia mendekat, justru kita yang kabur, takut durinya. Lucu deh.

Sedangkan hewan endemic lain yang ada di Cagar Alam Pangandaran adalah aneka burung, rusa, dan juga monyet ekor panjang.

Situs Batu Kalde
Selain kekayaan goa dan flora faunanya, Cagar Alam Pangandaran ini memiliki situs di tengah kawasan. Situs bernama Batu Kalde itu ditengarai dahulu berupa candi. Peninggalan-peninggalan di Batu Kalde diperkirakan dibangun pada abad 8. Dari pengungkapan ini, menunjukkan bahwa pada jaman tersebut Pangandaran telah memiliki sebuah peradaban.

Situs Batu Kalde, bukti sejarah bahwa pada abad ke 8 Masehi di Pangandaran telah ada peradaban.

Jika tak sempat ke Cagar Alam Pangandaran, tak perlu berkecil hati. Rusa-rusa dari cagar alam sering turun ke pantai ataupun pasar. Pagi hari saat tepat menemukan para rusa ini turun dari persembunyiannya di cagar, mencari makan.

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén