Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Regenerasi Barong Kemiren Terkendala Biaya

Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur merupakan desa adat yang dipandang paling otentik mempertahankan seni budaya khas Suku Osing, suku asli Banyuwangi yang ditengarai merupakan keturunan masyarakat Kerajaan Blambangan. Bahasa yang digunakan, seni budaya, dan tradisi Osing masih sangat kental di desa ini. Semisal, mayoritas perkawinan masih di antara masyarakat desa tersebut. Jarang masyarakat Desa Kemiren yang menikah dengan pasangan dari luar desa.

Masyarakat desa masih sangat memelihara budaya dan tradisi setempat karena menyadari pentingnya tradisi tersebut untuk kehidupannya. Warga Kemiren bahkan jarang yang mengembara. Mayoritas kegiatan mereka sehari-hari adalah bertani. Semua kehidupan mereka tercukupi dari alam sekitarnya sendiri, sehingga anak beranak pun lebih memilih tidak keluar desa. Kalaupun ada yang memilih untuk mengejar pendidikan di luar desa, jumlahnya tidak signifikan. Dan mereka yang berada di luar desa pun tetap dihimbau untuk menerapkan cara hidup orang Kemiren.

Barong Kemiren
Di Desa Kemiren inilah Seni Barong masih melekat erat dalam tradisi masyarakat setempat. Bahkan, sebenarnya kalau kita menyebut Barong Osing, berarti merujuk pada Barong Kemiren. Hanya di desa inilah barong dipertahankan keasliannya dan kesakralannya.

Barong merupakan makhluk mitologi yang dianggap seolah ada dalam kehidupan mereka yang mempercayainya. Layaknya naga di negeri China, maka kepercayaan barong sebenarnya tumbuh di berbagai budaya beberapa etnis di Indonesia. Etnis China di Indonesia memperkenalkan Barongsai, di Bali ada Barong Keket, di Ponorogo dikenal Barong Dhadag Merak (Reog), dan di Banyuwangi ya dikenal Barong Osing ini.

Barong Osing digambarkan berbentuk kepala raksasa yang besar, mata melotot dan taring keluar. Yang membedakannya dengan barong dalam budaya lainnya adalah ia bersayap dan memakai mahkota. Dua ciri terakhir ini tak ditemukan pada barong-barong lainnya. Ciri yang lain adalah dramatari yang disampaikannya selalu sama, tak pernah beranjak dari pakem yang ada, yaitu: Lakon Jakripah, lakon Sumirah, lakon Suwarti, dan lakon Singo Lodaya. Konon jika cerita ini diubah, maka lagi-lagi akan ada musibah menimpa warga desa.

Kesakralan Barong Kemiren terlihat lekat dalam penyelenggaraan ritual Ider Bumi. Ritual ini merupakan selamatan desa. Biasanya diselenggarakan pada hari kedua Idul Fitri. Pada hari tersebut, barong diarak keliling desa diiringi untuk menolak bala, melindungi desa dan warganya dari gangguan marabahaya dan musibah. Arak-arakan barong disertai dia pitik-pitikan dan dua macan-macanan. Konon jika arak-arakan barong ditiadakan dari ritual Ider Bumi, maka danyang desa, yaitu arwah Buyut Cili akan marah dan masyarakat desa akan menerima musibah. Buyut Cili dipercaya merupakan pendiri atau awal muasal pendirian Desa Kemiren.

Regenerasi Barong Kemiren
Menyebut Barong Kemiren dewasa ini, tak akan lepas dari ketuanya: Sucipto. Namanya pendek saja. Orangnya sederhana. Ketua Barong Tresno Budoyo ini memang dikenal biasa, tapi jangan pandang sebelah mata untuk upayanya melestarikan kesenian Barong Osing atau Barong Kemiren di desanya, Desa Kemiren.

Sucipto yang mulai belajar barong sejak bocah. Ketika usianya 9 tahun, dirinya mengaku dilarang ibunya belajar barong: “Cip, jangan main barong, tidak bagus,” begitu kata ibunya di suatu hari.

Malam berselang dan ibunya sakit, tangannya tak dapat ditekuk, matanya berangsur buta. Sang ayah telah membawa ibunya berobat ke Jember, lima kali. Sapi 3 ekor ludes untuk biaya, tapi sang ibu tak kunjung sembuh. Saat itulah Sucipto kecil berdoa kepada Buyut Culi, agar ibunya diberi kesembuhan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Ketika berdoa, jatuh sebuah bunga di depannya. Sucipto merendam bunga ini dengan air, dan dibasuhkan ke ibunya, termasuk matanya. Ibunya pun sembuh. Mulai saat itulah Sucipto tekun belajar tentang barong, nguri-uri budaya Osing melalui barong. Hinga beberapa tahun lalu dirinya terpilih sebagai ketua Barong Tresno Budoyo.

sucipto ketua barong tresno budoyo.

Dalam perjalanannya, Sucipto melihat pemain barong semakin tua. Dirinya prihatin jika kesenian ini akan menghilang tertelan jaman. Akhirnya dirinya mencoba meringkas cerita. Tanpa mengurangi keasliannya, ia menjadikan pertunjukan yang semula berdurasi 3 jam menjadi 1,5 jam saja. Dan ia menawarkan kepada pemuda dan anak-anak di Desa Kemiren untuk bermain barong.

Gayung pun bersambut. Para pemuda dan anak-anak itu pun berduyun belajar kesenian barong, sehingga saat ini sedikitnya terdapat 3 kelompok barong di Kemiren:

1. Barong Tresno Budoyo untuk pemain dengan usia tua
2. Barong Sapujagad dengan pemain dewasa muda
3. Barong Sawung Alit untuk pemain setara usia anak SMP

Masing-masing kelompok barong oleh Sucipto diberikan identitas barong yang berbeda. Yang paling tua tentu saja barong Tresno Budoyo, yang konon usia barongnya telah lebih dari 300 tahun.

dari kiri ke kanan: Barong Sapujagad, Barong Tresno Budoyo, Barong Sawung Alit

Meski sudah mampu meregenerasi pemain barong, kegundahan Sucipto tak kunjung berkurang. Dirinya dihadapkan pada kenyataan bahwa perangkat barongnya semakin usang. Sehingga saat dibawa pentas ke tempat lain, khususnya ke kota-kota lain, ia mengaku rendah diri jika dibandingkan dengan kesenian lain yang terlihat lebih glamour. Sementara dilihatnya kelengkapan barong, termasuk tetabuhannya semakin buluk.

Sucipto mengaku tak mampu serta merta memperbaharui atau merenovasi kelengkapan barong karena kebutuhannya sendiri meningkat. Anak-anaknya membutuhkan biaya. Hasil bertaninya sekadar cukup untuk menghidupi keluarganya. Katakanlah bersisa tak begitu signifikan untuk merenovasi barong. Sedangkan tanggapan barong saat ini tak bisa menetapkan harga cukup, mengingat setiap kali barong main, melibatkan sedikitnya 20 orang yang kesemuanya membutuhkan honor dan biaya transport.

Kesenian barong memang melekat di Desa Kemiren. Kesenian yang saat ini menjadi ikon identitas Banyuwangi ini tentunya membutuhkan kebersamaan dalam pelestariannya. Sepakatkah kita?

#PesonaBanyuwangi #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #VisitBanyuwangi #TheSunriseofJava #NinaYusab #TravelBlogger #Traveler #Banyuwangi #DesaKemiren #DesaAdat #Blog #blogging #Trip

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén