Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Semanggi

Semanggi

semanggi suroboyo,
lontong balap wonokromo,
di makan enak sekali,
sayur semanggi krupuk puli,
bung… mari….

Lirik di atas adalah sebagian dari lirik lagu keroncong berjudul “Semanggi Suroboyo”. Yang dimaksud semanggi suroboyo sebenarnya adalah pecel semanggi, makanan khas daerah Surabaya. Pecelnya sih kita kenal lah, hanya saja sayurannya terdiri dari semanggi, tanaman yang banyak tumbuh di areah persawahan.

Tanamannya sih nggak penting banget. Sering dianggap gulma malahan oleh petani. Tapi ketika dimasak dan dibumbui pecel, plus dimakan dengan kerupuk puli, rasanya selangit!

Banyak yang menduga semanggi ini hanya bisa ditemukan di daerah Benowo Surabaya, tapi nyatanya ketika aku berada di Cirebon kemarin, aku temukan juga makanan khas yang sudah mulai jarang juga ditemukan di Kota Udang ini. Namanya Semanggen.

Bila di Surabaya, semanggi digunakan untuk pecelan, maka di Cirebon sajiannya lebih mirip urapan. Daun semanggi yang sudah direbus dan ditiriskan, dicampur dengan kelapa parut dan taburan sambal terasi kering. Sambal terasi kering yang aku maksud itu terbuat dari cabai kering yang dibubukkan, ditambah terasi dan sedikit bumbu penyedap.

Ketika semanggi, kelapa, dan cabai bubuk dicampur, sensasi pedas dan terasi Cirebon langsung menggoyang lidah. Sayangnya, kemarin pas mencicip Semanggen Cirebon ini, semanggi yang digunakan terlalu tua, jadi agak liat. Padahal rasanya cukup menjanjikan, khususnya bagi penggemar sayuran.

Sekedar info, kalau di Surabaya pecel semanggi disajikan dengan kerupuk puli, maka di Cirebon, semanggen disajikan dengan kerupuk melarat.

Kepengen mencoba?

#food #foodtraveller #langsungenak #pesonacirebon #pesonaindonesia #ninayusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén