Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Seni Badud, Ikon Seni Pangandaran

Untaian musik mengalun rampak. Angklung dan juga dogdog – semacam kendang – dari berbagai ukuran selaras membentuk bebunyian khas. Serangkaian pantun dinyanyikan, berisi pujian dan harapan kemakmuran.
Pada awal pertunjukan, para pemain tetabuhan dan musik ini menari. Mereka bergerak membentuk formasi berbaris, maju dan mundur serta beputar.

Tak lama kemudian muncul peraga dua orang. Dari topeng yang mereka gunakan, keduanya mencerminkan kakek dan nenek yang sedang bertanam. Mereka ini disebut Aki dan Nini Pakebonan atau kakek dan nenek yang berkebun.
Pemeran aki dan nini mengenakan topeng, dengan baju sederhana. Siapapun yang melihat aksi mereka pasti akan terhibur, khususnya disebabkan oleh topeng mereka yang ekspresinya gimanaaaa gitu. Apa ya, tanpa ekspresi, khususnya topeng nenek yang terkesan njengkeli dan bikin ngakak. Mana gerakan si nini ini hanya menirukan si aki. Dari perawakannya pemeran nenek adalah anak laki-laki. Asal tahu saja, semua pemeran Kesenian Badud adalah laki-laki.

Selagi keduanya berkebun, tak lama muncul peraga macan, babi hutan, dan monyet yang merupakan manifestasi hama kebun. Seorang tetua menghembuskan ruh pada hama-hama ini. Mereka kemudian trans dan menuntut sesajian untuk tenang lagi. Diperlihatkan secara teatrikal, bagaimana manusia kemudian mampu mengendalikan hama ini. Inilah Seni Badud.

Bisa dikatakan Seni Badud adalah salah satu tradisi budaya Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Masyarakat memaknainya sebagai tradisi mengusir hama tanaman padi di sawah. Itu kenapa kesenian ini pada jaman penciptaannya, yaitu sekitar tahun 1880 dipertunjukkan pada saat upacara menanam padi. Kini Badud menjadi kesenian khas Pangandaran dan sering dipentaskan di berbagai kesempatan, seperti khitanan dan penyambutan tamu.

Kesenian Badud dimainkan oleh lingkaran kerabat dari penciptanya, yaitu Ki Ardasim dan Ki Ijot. Regenerasinya berjalan lambat, sehingga dikhawatirkan segera punah. Beruntung, sejak semakin dipopulerkannya kesenian ini, regenerasi mulai dibuka untuk kalangan anak-anak dan remaja.

Kalau ingin menyaksikan pertunjukan ini, silakan datang ke desa wisata Margacinta. Tepatnya di Kampung Badud, Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran.

Kontak Person:
DESA WISATA MARGACINTA
Edi Supriadi 0813 2314 5787

#pesonaindonesia #PesonaPangandaran #FestivalMilangKala #famtripwithpesona
#Traveller #Traveler #TravelBlogger #Blogging #Blogger #Trip #traveling #indonesiaindah #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén