Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Serunya Main Air Di Santirah

Suka river tubing? Itu tuh, berpetualang menyusuri sungai dengan ban dalam. Ban yang digunakan tentu ban dalam truk atau kendaraan besar lainnya. Kita rebahan di atas ban, menikmati pemandangan alam sekitar sungai. Asik lho, apalagi kalau kita tubing beramai-ramai dengan keluarga atau teman-teman. Bakalan seru deh di sepanjang perjalanan. Bisa saling dorong, bisa membuat rangkaian tubing, belum lagi foto-foto bakal heboh kalau beramai-ramai kan?

Nah, kalau dulu di Pangandaran, tempat yang terkenal buat tubing adalah Citumang, maka sekarang ada alternatif lain, yaitu river tubing di Santirah. Santirah ini terletak di Dusun Karangmukti, Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Tubing di Santirah lebih seru karena kita melewati beberapa gua, dan juga air terjun! Dijamin basah kuyup.

Saat Famtrip dengan Blogger Pesona Indonesia beberapa saat lalu, kami pun menjajal route Santirah ini. Belum juga mulai, hujan turun. Tapi bukankah kita memang akan berbasah-basah? Tambah seru!

Saking kepengen segera nyemplung ke air, safety brief nyaris aku dengarkan setengah hati. Maklum, sudah nafsu tubing. Aku sudah pernah rafting beberapa kali. Body rafting pernah juga di Green Canyon dalam famtrip yang sama. Nah, untuk tubing, baru di Santirah inilah. Bisa dibayangkan betapa kepengennya aku mulai petualangan ini?

Usai brief, masing-masing diberi satu ban dalam. Ban ini jadi tanggungjawab kita sampai nanti pulang ke basecamp lagi. Nggak berat kok. Besaran ban juga berbeda-beda lho. Disesuaikan dengan gede tubuh kita. Yang tubuhnya kecil ya bawa ban yang lebih kecil, sementara yang tubuhnya besar, bawa ban yang cukup besarnya. Biar nanti pas kita naikin pas dengan posisi bokong dan rebahan, tubuh kita tidak molos di tengah.

Dan, mulai lah kami berangkat, menuruni setapak yang tak terlalu panjang. Sungai Santirah menanti kita arungi.

kait mengait tubing di Santirah. Semakin banyak teman, semakin asik.

Rangkaian tubing kita bentuk. Masing-masing duduk di ban, dan setiap ketiak mengait kaki teman yang berada di ban di belakang kita. Setelah semua terkait, meluncurlah kami mengikuti arus sungai. Tak terlalu jauh, jeram kecil sudah menanti. Saat melintasinya, teriakan-teriakan langsung menggema di tebing-tebing yang mengepung sungai. Belum lagi pas ada air terjun kecil yang mengalir dari atas tebing, kami didorong ke arah air terjun itu. Fixed, kepala dan seluruh tubuh langsung basah. Lagi, teriakan menggema. Setelah itu aliran sungai lebih tenang, dan kami melintas sambil melihat tebing-tebing di kanan kiri yang luarbiasa indah.

Selain duduk di atas tubing, ada saat-saat kami harus turun dan mendaki bebatuan karena aliran sungai tak bisa dilewati ban. Mendaki bebatuannya sih seru untukku, nggak masalah karena tidak terlalu tinggi dan tak terlalu sulit. Tantangan justru datang saat kita harus naik lagi ke ban. Tahu kan, badanku cukup besar. Dan aku harus setengah loncat membelakangi ban agar bokongku ini masuk ke lingkaran tengah. Berat boookk. Tapi, oke lah, setelah mencoba beberapa kali, berhasil juga diriku naik lagi di ban.

Legenda Santirah
Sebenarnya tak jauh dari titik start kita melewati goa kecil, dan kemudian goa besar. Saat melewati goa kecil, santai sih semua blogger masih teriak-teriak kegirangan. Tapi, saat memasuki goa besar, entah, semua seolah sepakat untuk diam. Mulut rasanya tercekat. Seperti tersihir untuk senyap. Pemandu tubing menunjukkan relief bentuk vagina perempuan yang seolah sedang pipis karena ada semburan air di celahnya. Pemandu tubing bahkan sempat memanasi kami untuk menyanyi atau teriak, tapi senyatanya, tak ada yang melakukan himbauan itu. Baru setelah melewati goa, keriangan kami kembali.

Tak ada yang memikirkan situasi ini sampai kami kembali ke lokasi finish. Saat istirahat, sambil menunggu teman-teman bebias, barulah kami tahu bahwa goa besar, di mana terdapat bentuk kemaluan perempuan itu adalah lokasi hilangnya Santirah.

Santirah sejatinya adalah nama kembang desa yang berprofesi sebagai ronggeng. Santirah berperilaku lembut. Ia baik hati. Tak jarang perolehannya ngamen ia bagikan ke orang yang tidak mampu. Wajahnya cantik menarik, tubuhnya seksi selayaknya penari ronggeng. Kesempurnaannya ini lah sumber dari tragedy hidupnya. Setiap Santirah manggung, selalunya terjadi perkelahian memperebutkan perhatiannya. Pada satu masa, pacar Santirah tak kuat menahan cemburunya, membunuh perempuan ini dan membuangnya ke sungai. Sungai yang sekarang dikenal dengan nama Sungai Santirah. Tubuhnya hanyut dan tak pernah ditemukan. Masyarakat sekitar mempercayai tubuh Santirah menghilang di goa besar tadi. Lantas, apakah kesenyapan kami tadi dipengaruhi oleh Santirah? Entahlah. Jujur, tak ada rasa merinding. Yang aku rasakan justru sebuah ketenangan.

Aih, Santirah. Namanya bahkan mencerminkan sebuah kelembutan perempuan. Andai legenda ini memang berdasarkan kisah nyata, semoga ia tenang dan pasrah menghadapi kematiannya.

Paket-paket Tubing Santirah
Untuk wisatanya sendiri, Tubing Santirah memiliki beberapa pilihan, antara lain Paket Basic, Paket Reguler, dan Paket Premium. Harga paket mulai dari Rp 100.000/orang. Paket sudah termasuk pemandu bersertifikat, ban, life vest, dan makan siang.

habis bebasahan river tubing, disambut makan siang dengan pindang gunung dan keripik daun paku/pakis. nikmaaat!

Sekedar cerita, di sini kita bisa order makan siang yang berbeda dengan tambahan biaya murah. Cobalah minta sajian Pindang Gunung dan Nasi Liwet. Untuk tambahan, boleh juga dicicip keripik daun paku.

Kontak Person:
WISATA SANTIRAH
Widi +62 813 2009 9242

#pesonaindonesia #PesonaPangandaran #FestivalMilangKala #famtripwithpesona
#Traveller #Traveler #TravelBlogger #Blogging #Blogger #Trip #traveling #indonesiaindah #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén