Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Sesederhana Bung Hatta

Tak banyak yang tahu bahwa hari ini, 12 Agustus adalah hari kelahiran salah satu tokoh proklamator kita, Bung hatta. Masih ingatkan, kalau proklamator kita ada 2 orang: Bung Karno (Ir. Soekarno) dan Bung Hatta (Drs. Mohammad Hatta)?

Kepopuleran nama Bung Hatta nyaris kalah oleh nama Bung Karno. Namanya hanya diingat saaat jelang 17 agustus seperti sekarang ini, saat rakyat Indonesia, juga warga dunia dihadapkan pada proklamasi kemerdekaaan Indonesia. Barangkali, kalau tidak ada peringatan Hari Kemerdekaaan Republik Indonesia, namanya tak akan sering disebut.

Kalaupun nama Bung Karno selalu diperjuangkan anak-anaknya, salah satunya sebagai nama stadion dan selalu menjadi rebutan ikon politik partai tertentu, maka nama Bung Hatta terasa lebih sunyi. Jauh dari hiruk pikuk dunia. Masih untung nama kedua proklamator kita itu sering disatukan, sehingga reputasi keduanya menyatu dalam sebuah konteks. Sebut saja Bandar Udara International Soekarno-Hatta.

Hooaa, ngapain aku malah menabur kata-kata tak penting seperti ini. Aku tak hendak membandingkan keduanya dalam kekinian. Aku hanya ingin berkata: sejarah boleh saja dikaburkan, diubah, dibelokkan, atau bahkan dilupakan. Tapi keberadaan pelakunya lah yang akan memberikan arti sesungguhnya atas apa yang ia lakukan pada saat itu, tahun itu, jaman itu. Bukan pada bagaimana keturunan dan penerusnya mempergunakan nama mereka untuk kepentingan saat ini.

Saat FAM Trip Blogger Kementerian Pariwisata RI, 5-9 Agustus 2016 lalu, dengan destinasi Padang-Sawahlunto-Bukittinggi, kami sempat berkunjung ke Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, di Jl Jl. Soekarno Hatta No.37, Campago Ipuh, Mandiangin Koto Selayan, Bukittinggi, Sumatera Barat, aku terpukau dengan kebersihan dan keteraturan di rumah ini.

Rumah bertingkat dua itu terasa menenangkan hati. Dindingnya yang terbuat dari anyaman bambu, justru memberiku rasa hangat. Lampit-lampit untuk tikar tempat duduk di lantai 2 seperti bercerita betapa kehidupan keluarga di ruangan ini begitu dekat. Sementara ruang tamu dan ruang makan di lantai 1 masih lengkap, rapi dengan perabotan, meja kursi untuk tamu dan juga peralatan makan yang masih asli.

kesederhanaan terlihat pada suasana ruang makan bung hatta di bawah tangga

ruang tamu yang tak begitu besar sering digunakan untuk menerima kunjungan kerabat maupun teman-teman bung hatta

Dessiwarti, petugas dari Dinas Pariwisata Bukittinggi yang mengurus dan merawat rumah ini, menceritakan Bung Hatta lahir di rumah ini dan hanya tinggal di tempat ini hingga usia 11 tahun, dari tahun 1902-1913, karena status sosialnya sebagai keluarga pedagang besar pada waktu itu memungkinkannya kemudian bersekolah ke Padang.

Rumah Kelahiran Bung Hatta ini sebenarnya adalah rumah neneknya dari pihak ibu. Berlantai 2, dengan dua lumbung padi di belakang.

Di samping kiri rumah terdapat istal kuda. Konon dulu terdapat sedikitnya 18 ekor kuda di rumah ini. Dessiwarti mengatakan, dulu area rumah kelahiran Bung Hatta seluas kurang lebih 4 hektar. Namun seriring waktu, tanah sebagian demi sebagian dijual, dan bahkan rumah utama inipun nyaris tak terawat, sampai ada prakarsa pemugaran pada tahun 1955 oleh Azwar Anas. Meskipun beberapa hal mengalami penggantian, seperti dinding rumah, lampit, dll, tapi bentuk dan jenisnya dibuat mirip dengan aslinya. 


dinding anyaman bambu di rumah kelahiran bung hatta

Di lantai atas terdapat silsilah keluarga. Dijabarkan Hatta adalah anak dari pasangan H. Muhammad Djamil dan Saleha, merupakan keturunan kedua dari Syech Adurrachman, atau Syech Batuhampar. Ada pula koleksi foto saat ia kecil. Sedangkan di lantai bawah terpampang dokumentasi foto pergerakan Bung Hatta, baik sebelum dan semasa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

Hm, harus diakui sangat menarik mendengarkan Dessiwarti menerangkan ihwal Rumah Kelahiran Bung Hatta. Perempuan yang sudah 30 tahun mengabdi sebagai tenaga honorer ini sangat fasih dengan sejarah tentang Bung Hatta. Suaranya yang tegas dan lincah bercerita mampu membawa pikiranku terbang, menjelajahi tahun-tahun kehidupan Bung Hatta.

Ingin tahu lebih banyak soal Rumah Kelahiran Bung Hatta? Langsung saja kunjungi tempat ini di Bukittinggi, Sumatera Barat. Kita akan dibawa larut ke tahun-tahun silam, tenggelam sesaat dalam sejarah.

#TdS2016 #PesonaSumbar #PesonaMinang #Bukittinggi #WestSumatera #BungHatta #Soekarno-Hatta #BloggerTravel #Traveller #Sejarah #Indonesia #Proklamasi #HariKemerdekaanRepublikIndonesia #IndependenceDay #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén