Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Syahdunya Taman Mayura

Suasana syahdu kental terasa saat kita masuk ke Taman Mayura, di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Taman ini begitu hening. Secepat masuk, kita akan dihadapkan pada nuansa yang asri dan religius. Aku bahkan seperti tersihir untuk mengendalikan diriku supaya lebih kalem. Asli. Padahal biasanya aku begitu ‘ramai’. Tapi di sini, secepat aku memasuki gerbang taman, seperti ada yang menenangkanku.

Area Taman Mayura sebenarnya terbagi dua, yaitu taman dan pura. Di bagian taman, terdapat telaga kecil dengan air yang tenang mendominasi. Dulu air telaga tak setenang ini. Air mengalir dinamis dengan suaranya yang khas, sehingga namanya pada saat dibangun tahun 1744 bukan Taman Mayura, melainkan Taman Kelepug. Kelepug itu bunyi air yang mengalir. Sementara nama Mayura baru disematkan pada tahun 1866, saat direnovasi oleh Anak Agung Ngurah Karangasem.

Mayura artinya merak. Iya, burung merak, yang konon sengaja dipelihara di area taman untuk mengusir banyaknya ular yang hidup di taman. Ular-ular ini cukup mengganggu mereka yang beribadah di pura, sehingga akhirnya dipelihara burung merak untuk memangsa binatang melata tersebut. Saat ini tak satupun burung merak ataupun ular terlihat. Telaga masih dipertahankan dengan banyak pohon manggis, memberikan keteduhan. Kesan rapi sangat nyata di taman yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi NTB. Betah rasanya sekedar duduk berlama-lama di sini.

Di tengah telaga terdapat bangunan Bale Kambang. Konon dulu, Bale Kambang ini berfungsi untuk balai pertemuan, dan tempat untuk raja saat mengadili suatu perkara.

Taman Mayura yang terletak di tengah kota mataram ini sejatinya memiliki keterikatan sejarah sebuah kerajaan Hindu. Pendirinya diyakini merupakan keturunan kerajaan dari Bali. Tidak mengherankan jika arsitekturnya sangat lekat dengan bangunan-bangunan yang biasa terlihat di Pulau Dewata. Di ujung taman berdiri beberapa pura, di antaranya Pura Kelepug dan Pura Jagat Nata. Pura-pura ini pada saat tertentu masih aktif digunakan untuk umat Hindu beribadah. Sayang sekali saat aku ke Taman Mayura, pura tertutup untuk umum.

taman mayura begitu asri, bersih, dan nyaman untuk sekedar berekreasi dengan teman-teman

Tapi, rasa kecewaku sedikit tertebus oleh sesuatu. Mau tahu? Ssssttt, sini, aku bisikin: kalau ke Taman Mayura, sempatkan lah mampir ke warung kecil yang nempel di sisi tembok sebelah kiri taman. Di situ ada yang jual Rujak Terasi! Rujak khas Lombok ini cukup untuk mengelus masygulku karena rasanya cukup enak. Tapi, itu aku ceritakan nanti ya di tulisanku yang lain. Tidak enak kan cerita soal makanan di tengah kesyahduan Taman Mayura.

Jadi, kalau kalian pas di Mataram, Lombok sempatkan lah main ke Taman Mayura. Lokasinya tepat di tengah kota Mataram kok. Mudah banget dicari. Nikmati suasana tenang dan Asri sepuasnya di taman ini.

#PesonaLombok #PesonaIndonesia #WonderfulIndonesia #TamanMayura #VisitLombok #DisbudparProvinsiNTB #BloggerTravel #blog #blogging #trip #langsungenak #Traveler #Traveller #FoodTraveler #Travel #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén