Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Tersihir Keindahan Negeri Di Atas Awan

Negeri Di Atas Awan. Julukan ini layak disematkan untuk Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Di desa inilah terdapat puncak B29 dan B30 yang terkenal sebagai salah satu spot terbaik untuk melihat Gunung Bromo dengan Gunung Batok-nya yang fenomenal itu. Angka pada B29 dan B30 itu sebenarnya merujuk pada ketinggian puncak-puncak spot wisata. Artinya, keduanya ada di ketinggian 2.900 mdpl dan 3.000 mdpl. Mdpl adalah singkatan dari Meter Di Atas Permukaan Laut.

Untuk menikmati pemandangan terbaik, capailah B20 atau B30 pada saat dini hari, jelang matahari terbit. Pilihlah salah satu di antara keduanya. Karena meskipun B29 dan B30 berjarak tak begitu jauh, tapi medannya cukup menanjak dan berliku, sehingga perpindahan dari puncak satu ke puncak yang lain akan memakan waktu. Bisa-bisa kita kehilangan moment untuk melihat keajaiban awan tumpah dan matahari terbit di ufuk timur. Aku dan kawan-kawan memutuskan ke B29.

Malam itu gerimis, sehingga tidak memungkinkan camping di atas. Lebih baik berangkat jam 04.00 WIB dengan bantuan ojek. Ojek di sini sudah biasa membawa wisatawan ke puncak-puncak tersebut. Mereka adalah penduduk setempat yang sudah faham banget jalan dan liku-liku menuju puncak. Janjianlah dengan pengojek ini ketika datang ke Argosari. Apalagi kalau bawa rombongan. Mereka siap jemput tepat waktu sesuai permintaan.

Begitulah. Alih-laih kami camping, akhirnya kami memutuskan tidur di rumah penduduk, yang kebanyakan memang menyediakan kamar-kamarnya untuk homestay. Dinginnya hawa gunung sudah terasa saat kami ‘mendarat’ di Argosari jelang malam. Homestay yang kami tinggali berlantai keramik, dingin luarbiasa. Saat kaki menginjaknya tubuh langsung ikut membeku. Segera aku keluarkan kaos kaki, lumayan lah untuk melindungi kaki dari sangatan dingin.

Saat malam begini biasanya pemilik homestay akan mengajak kita gegeni. Gegeni adalah tradisi masyarakat setempat ngeriung di dapur dekat tungku kayu untuk menghangatkan badan. Sayangnya karena malam itu ada penduduk yang sedang punya gawe, sehingga mereka tidak bisa memberi kita tradisi yang satu ini. Apaboleh buat. Cukuplah malam itu kami ngeriung sendiri, berkumpul, cerita sana-sini, mengisi waktu malam yang menurutku berjalan cukup lambat.

Makan malam kami disediakan oleh penduduk. Menunya cukup sederhana: nasi, telur dadar, ayam goreng dan sambal. Ada juga kentang goreng hasil panenan kebun setempat, rasanya enak. Kentang yang manis di bumbu asin. Lamat-lamat lidahku mencecap rasa bawang putih, tapi tipis banget. Asinnya yang lebih dominan. Andai kentang ini disajikan hangat, pasti seru banget.

kentang goreng di desa argosari ini enak banget. manis dan pulen.

Lumayan, saat perut sudah terisi, tubuh menghangat. Saatnya tidur lebih cepat supaya besok pagi bisa bangun lebih awal. Apalagi tubuh masih penat. Paha dan betis masih kaku akibat kemarin menuruni tebing Air Terjun Tumpak Sewu. Aku memutuskan tidur di sofa. Di kamar yang disediakan sebenarnya ada kasur, tapi ampun, kasur-kasur itu sedingin malam. Aku lihat beberapa teman juga memilih tidur di karpet yang ternayata lebih hangat.

Dan malam pun berlalu dengan hening.

Jam 3 .30 pagi aku dengar suara motor mulai berdatangan. Wuih, keren. Pengojek benar-benar tepat waktu. Kami pun segera bersiap-siap untuk naik. Rata-rata wardrobe teman-teman sama: Selain baju standar seperti celana panjang dan kaos, maka di bagian luar ada tambahan jaket, kaos kaki, kaos tangan, dan buff untuk menutup telinga. Untungnya pagi itu hawa sedikit lebih hangat. Penduduk lokal yang jadi driver, aku lihat bahkan hanya berselempang sarung saja, tanpa pelindung kaos kaki dan tangan. Aih, mungkin karena mereka sudah terbiasa dengan hawa dingin ini.

Jadilah kami berangkat jam 4 lebih sedikit. Motor kami beringinan menuju puncak B29. Aku lihat dari berbagai arah motor lain juga menderu membawa wisatawan naik. Jalanan kondisinya baik. Selepas aspal, jalanan dibangun dengan susunan conblock. Para pengojek cukup handal mengatasi tikungan-tikungan tajam. Tak sampai 30 menit sudah sampai di area B29. Turun dari motor kami masih harus berjalan. Tenang, cuma 100 meter saja kok. Agak menanjak, tapi juga tidak ekstrim. Intinya, puncak B29 ini bisa dijangkau dengan mudah. Bahkan kalau mau, motor bisa dikendarai sampai atas, cuma kebanyakan pengojek membatasi hingga titik sebelum puncak. Mungkin untuk menjaga agar area itu bersih dari polusi suara dan udara.

Tersihir Keindahan B29
Aku pernah ke Bromo dan melihat puncak gunung Batok dari Penanjakan. Sayang waktu itu aku tidak mendapati awan tumpah karena datang sedikit lebih lambat. Nah, pemandangan di lokasi Puncak B29 Bromo tidak kalah cantiknya dengan pemandangan ketika kita berada di puncak Penanjakan itu. Plus, bonus: AWAN TUMPAH..!!

Huuaah, tidak rugi bangun pagi-pagi untuk mendapatkan pemandangan berharga ini.

ini adalah lautan kabut bromo dilihat dari puncak B29 argosari. luarbiasa.

Matahari belum muncul, tapi semburat cahayanya sudah menyapa kita terlebih dulu. Mata perlahan menyesuaikan dengan cahaya yang masih terbatas ini. Dan aku lihat tepat di depanku, awan putih yang tebal berarak menyelimuti kaldera Bromo. Puncak Gunung Batok tepat berada di depanku dikelilingi awan tumpah. Indah sekali.

Aku yakin, kamera manapun tidak akan pernah bisa menangkap suasana pagi itu secara utuh. Lensa bisa jadi menangkap landscape dan awan-awan ini dengan baik, tapi keindahannya tak akan selengkap saat ini. Aku perintahkan otakku untuk menyimpan ingatan tentang pagi ini.

Pergeseran waktu di tempat ini begitu terasa. Jejak matahari menit ke menit terekam dengan baik. Menit berlalu. Matahari mulai menampakkan dirinya malu-malu. Cahayanya menyapa Gunung Batok di depanku lebih jelas. Lerengnya yang bergurat vertikal semakin nyata. Awan tebal masih setia menyelimutinya. Cahaya pagi juga membantuku memahami, tanah yang kuinjak lebih tinggi di atas awan-awan itu. Aku berada di atas awan. Negeri Di atas Awan.

Berada di puncak B29 memberiku keuntungan ganda. Kalau di depanku terlihat Gunung Batok lengkap dengan barisan awan yang bergerak gemulai, maka di belakangku keindahan yang lain sudah menanti: keindahan matahari terbit. Semburat kemerahan langit ditingkahi dengan silouete Gunung Semeru begitu memukau. Fajar selalu memberikan keheningan yang berbeda. Mengisi hati kita dengan harapan baru untuk kebaikan hari itu. Hatiku menjadi lebih content, merasakan keutuhanku sebagai manusia di tengah semesta.

Jam 07.00 pagi waktu setempat. Matahari sudah meninggi. Awan tumpah semakin menipis. Aku bisa melihat kaldera Bromo. Jeep-jeep yang menyusuri jalanan di bawah membawa wisatawan ke Pasir Berbisik. Derunya sayup terdengar.

Kami memutuskan turun ke titik penjemputan.Saat terang barulah kami melihat pemandangan yang cukup membuatku melongo: kebun sayur di lereng-lereng gunung. Jauh aku amati kebanyakan yang ditanam adalah kol dan daun bawang. Rapi. Kulihat lereng itu cukup terjal. Wah, gimana caranya mereka bertanam di kemiringan itu? *takjub*

kebuh sayur di argosari ditanam di kemiringan ekstrim.

Saat turun, terasa perut keroncongan minta diisi. Beberapa warung dengan bangunan seadanya ada di sini, menjajakan mie instan, aneka gorengan, dan tentu kopi dan teh. Kamipun mampir sekedar mencicipi bakwan sederhana. Aku katakan sederhana karena hanya terbuat dari tepung terigu dan daun bawang saja, tak ada sayuran lainnya. Hm, sesederhana apapun, saat disajikan hangat tetaplah nikmat. Dan kami pun berebut segera mengunyahnya.

Datanglah ke B29 Argosari. Kunjungi Negeri Di Atas Awan ini. Kau tak akan menyesalinya.

#PesonaIndonesia #PuncakB29Argosari #Argosari #b29 #B30 #VisitLumajang #Traveller #TravelBlogger #Instagramer #NinaYusab #Sunrise #AwanTumpah #GunungBatok #Bromo #Tengger #MatahariTerbit #HomeStay #Matahari #Ojek

Keterangan Feature Image: Tersihir Keindahan Negeri Di Atas Awan (Capture: Sendy Aditya Saputra)

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén