Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Tumpak Sewu, Setetes Surga Di Lumajang

Lama tidak nge-trip. Jadi semangat banget ketika kemarin harus memberangkatkan blogger ke Lumajang. Kota di wilayah Jawa Timur ini rupanya menyembunyikan banyak keindahan yang saat ini bisa dikatakan belum terpublikasi secara luas. Sebut saja: Tumpak Sewu, Goa Tetes, Air Terjun Kapas Biru, Hutan Bambu Sumbermujur, Kebun Teh Gucialit, Puncak B29 dan B30 Argosari, serta Ranu Klakah. Semuanya adalah wisata Lumajang yang layak dikunjungi. Bahkan bagi para tracker, beberapa trip point tersebut wajib kunjung.

Susunan itinerary 4 hari, 3 hari di Lumajang dan sehari di Jember terasa kurang. Tapi apa boleh buat, harus dipilih berdasarkan prioritas. Jadilah ketika aku berangkat bareng teman-teman di tanggal 28 April 2007 lalu, hari pertama kita langsung menuju ke Tumpak Sewu, sebuah air terjun yang luarbiasa indah.

Mendung pekat sudah menggayut sepanjang perjalanan kami dari Jember ke Lumajang. Bahkan saat mobil menjejak halaman parkir pintu masuk Tumpak Sewu, suasana lebih gelap. Kutengok waktu digital di gadgetku, masih jam 2 siang. Masih ada harapan untuk menuruni dasar Tumpak Sewu, karena batas turun adalah jam 15.00 WIB. Hm, semoga kami semua bisa turunlah. Jauh-jauh dari Jakarta ke Surabaya, sambung lagi pesawat ke Jember, kok sayang banget kalau tidak bisa menyusuri track air terjun yang satu ini.

Bang Dul alias Abdul Karim yang dianggap sebagai kuncen air terjun ini menyarankan kami istirahat dulu di sebuah warung yang ada di area parkir. Kopi panas pun segera disajikan. Suguhan lain menyusul, seperti singkong rebus, pisang rebus, dan yang terakhir tapi tak kalah menarik adalah salak rebus. Betul, itu benar-benar buah salak yang direbus utuh, lengkap dengan kulitnya. Rasanya? Enak. Tapi nantilah, ulasan makanan selama di Lumajang aku tulis terpisah ya. Yang pasti sambil menunggu, perut dikenyangkan dengan camilan yang disuguhkan itu.

Aku lihat wajah teman-teman sumringah. Blogger yang berangkat kali ini kebanyakan memang cowok. Dari 8 orang penggiat social media, lima di antaranya adalah laki-laki, sisanya perempuan. Semua nyaris masih muda, kecuali aku tentunya. Bahkan Harival, Schode, Amor, Fahmi dan Aya bisa dikatakan seumuran anak-anakku. Sementara Mas Sendy dan Mbak Terry sebaya adikku yang nomor 5 dan 6 kali ya. Trip kali ini tour leader kami dari Jakarta adalah Ain. Sedangkan tour guide kami selama di Lumajang adalah Mas Luki dan Mas Nur dari Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Lumajang. Supervisi dari Bidang Promosi Kementerian Pariwisata ada Mas Wawan dan Pak Ali. Jadi fixed, total 10 cowok dan 3 cewek. Tapi, meski minoritas, aku lihat semua cewek tangguh, tidak manja. Aku juga (yang ini ngaku-ngaku, asli).

air terjun tumpak sewu, lumajang, jawa timur.

Mendekati jam 15.00 WIB akhirnya Bang Dul mengajak kami menuju lokasi. Semua barang bawaan kita tinggal di mobil. Dipastikan kami akan basah nanti, tapi tenang, di area parkir ada beberapa kamar kecil yang disediakan baik untuk mandi maupun bebersih.

Aku cek sandal gunungku masih baik. Syal yang biasa menggayuti leher, aku ikatkan ke pinggangku, sekalian jadi tempat simpan gadget. Entah kenapa aku punya firasat kedua tanganku akan aku butuhkan untuk survive saat menuruni Tumpak Sewu nanti. Sebotol air aku titipkan ke Pak Ali yang membawa ransel kecil di punggungnya.

Menyusuri Track Tumpak Sewu
Air terjun Tumpak Sewu secara geografis terletak di aliran Sungai Glidik yang menjadi pembatas Kecamatan Ampel Gading Malang dan Kecamatan Pronojiwo Lumajang. Air terjun mengalir di tebing-tebingnya yang tegak lurus, tebing yang sebagian menjadi bagian dari Malang. Tapi untuk menikmati keindahan dan menuruni Tumpak Sewu, lebih mudah dijangkau dari Desa Sidomulyo, Lumajang.

Kaindahan Air Terjun Tumpak Sewu bisa dinikmati melalui dua titik, yaitu di point panorama, sebuah tempat untuk melihat air terjun dari atas. Di titik ini kita bisa menikmati indahnya air yang mengalir ke bawah melalui tebing-tebing. Capture dulu lah air terjun dari tempat ini sepuas hati. Yang bawa drone, pasti bakal menemukan keseruan main-main dengan ‘kamera terbangnya’ di sini.

Track menuju ke Panorama tidak terlalu menantang. Jalan memang menurun, tapi infrastruktur sudah cukup. Jalanan sudah diperhalus dengan cor semen, sehingga memudahkan pengunjung menuju titip Panorama. Wajah kami masih sumrigah menyusuri jalan yang tak terlalu jauh itu, sekitar 500 meter saja lah hingga ke tujuan pertama.

Ketika kami sampai di titik panorama ini, aroma embun sudah menguar. Titik-titik air yang memecah udara menyentuh reseptor tubuh, menularkan rasa segar. Dari panorama ini keindahan Tumpak Sewu sudah kental. Meski begitu, aku membayangkan jika ada sarana untuk lebih maju sedikit lagi, sehingga bisa mengintip air terjun lebih dekat, akan jauh lebih indah.

Asik di panorama sebentar, kami segera memutuskan untuk turun ke lembah. Maklum, waktu semakin mepet, sudah jam 15.00 an. Bang Dul memperkirakan kalau turun sekarang, maka sebelum maghrib kami semua sudah sampai di atas lagi. Diperkirakan 30 menit menyusuri jalan turun, 1 jam di bawah menikmati lembah dan foto-foto (ini penting dong, secara kalau tulisan tanpa gambar kan hoax 😀 ). Dan 1 jam naik ke permukaan. Total perkiraan turun dan naik lagi hanya sekitar 2,5 jam.

Bagaimana realitanya?

Sebentar, aku menghela nafas dulu ya. Kumpulin semangat untuk cerita lagi soal petualangan menyusur lembah Tumpak Sewu ini..

Begini, di atas sudah aku sampaikan kan kalau blogger kali ini tangguh semua. Aku bahkan menggolongkan diriku di situ. Ukuranku mudah kok, aku pernah menuruni Mata Air Guyangan di Nusa Penida. Track di Guyangan menurutku fantastis. Kita harus menyusuri tangga yang ‘menempel’ di tebing tegak lurus. Sementara di bawah sana sudah menanti ombak Laut Selatan yang ganas. Sekali terpeleset, tubuh akan melayang dalam pelukan ombak. Bisa ditemukan, bisa tidak. Ombak Laut Selatan dari atas saja sudah terdengar menggelegar. bikin ciut hati. Dari atas tebing hingga ke bawah, ke mata air, kalau diukur lurus, sekitar 300 meter. Dan aku bisa dengan lumayan mudah turun dan menaiki track di Nusa Penida ini. Jadi kalau sekarang aku harus menyusuri track Tumpak Sewu yang ‘hanya’ 120 meter, dan kalau pun jatuh, masih menyentuh tanah. Hm, rasanya aku bisa. Semangat lah. Teman-temanpun aku lihat sangat antusias,.

Kami bergegas menyusur jalan setapak menuju ke lembah. Tak lama kami menemukan jenjang yang terbuat dari bambu. Masih lumayan lah kondisinya. Tapi semakin menurun, semakin terjal kemiringannya. Kondisi tangga juga sebagian rusak. Kadang aku harus melangkahkan kaki 2 step langsung supaya telapak kaki menemukan pijakan. Railing tangga yang terbuat dari bambu kadang ada, kadang tidak. Seringkali hanya dibantu dengan tali yang terbuat dari potongan ban luar mobil.

track menuruni tumpak sewu cukup terjal.

jalur menuju lembah di bawah tumpak sewu bahkan harus melewati sungai.

Jalur menuju lembah tak semuanya juga dipermudah dengan jenjang tangga. Kami bahkan harus melewati aliran sungai yang mengalir menurun menuju ke tempat yang lebih rendah. Licin? Pasti. Bang Dul sejak awal sudah mengingatkan kami supaya menggunakan sepatu gunung yang pakem.

Setelah berpayah-payah, kami akhirnya sampai ke lembah. Baju sudah basah, entah oleh keringat atau oleh buncahan embun air yang memang membaur dengan udara di lembah. Bisa jadi karena keduanya.

Kami menyusur Lembah Virgin. Lembah ini terbentuk oleh tebing di kanan dan kiri. Lekukannya menyerupai huruf V, sehingga masyarakat setempat menyebutnya Lembah Virgin. Dari sini, kami menyeberang tangga besi dan maju sedikit lagi disambut oleh sungai yang harus di seberangi. Arusnya cukup deras sehingga kami harus berpegang ke tali untuk melintasi sungai.

Sebuah perjuangan.

lembah virgin, disebut demikian karena tbing membentuk huruf V dari kejauha. indah sekali di sini.

Jujur, saat turun setengah jalan, melihat kondisi medannya, aku nyaris menyerah. Tapi sisi lain diriku yang keras kepala menghela, memaksaku maju. Menyusuri track sampai ke dasar lembah tidaklah mudah. Kita harus ekstra hati-hati supaya tidak terpeleset. Ketika sampai di dasar luutut yang menahan tubuhku seolah kehabisan ‘oli’. Jalan pun harus hati-hati banget supaya tidak lolos jatuh nyungsep. Nyaris tak bisa berdiri tegak. Lutut serasa mau copot. Masih bisa jalan lah. Tapi kudu hati-hati. Juga saat menyeberang sungai yang alirannya cukup deras, nyaris aku terjatuh. Untung teman-teman saling bantu kami menyeberang satu persatu.

Tapi saat sampai di dasar lembah, semua kepayahan itu terbayar. Berdiri di sini, di lembah Tumpak Sewu, aku menemukan kepuasan lahir batin. Puas karena aku bisa mengalahkan diriku sendiri. Aku bisa.

Lembah ini begitu indah. Suara air mengalir jatuh berkubik-kubik. Ritmis. Suasana begitu magis. Diriku merasa tak berarti sekaligus mumpuni pada saat yang sama. Kekuatan tebing-tebing di sekitarku menyadarkanku, betapa aku ini hanya terbuat dari darah dan daging. Tak berarti apa-apa jika dibandingkan gagahnya mereka saat menggirng air menuju pelukan bumi. Tapi aku juga bisa menyerap kegarangan alam ini, untuk kukristalisasi menjadi api kekuatan di dalam hatiku, memembuatku hangat. Andai bisa, ingin berlama-lama rasanya di sini. Berdiri di lembah ini.

Huuaahhh… kutarik nafas panjang. Perlahan aku berusaha menghimpun kembali semangat untuk menaklukkan jalan naik nanti. Cukuplah istirahat ini.

Di dasar lembah, cahaya matahari dengan cepat menghilang. Kami harus bergegas naik, sebelum cahaya menjauh dari pijakan. Tapi, sebenarnya bukan itu yang menggangguku. Kepalaku justru penuh dengan pertanyaan: kuatkah aku naik, saat tadi menurun pun aku nyaris kalah?

Hm, usia sudah kepala lima, batas umur maksimal seorang pejalan boleh menuruni Lembah Tumpak Sewu. Sepertinya aku harus minum dulu. Dan, aku baru menyadari ada satu teman yang tidak ikut turun. Pak Ali!

Aduh, botol air minumku! *lebay mode on*. Untunglah teman-teman mau berbagi jatah minumnya untukku.

Secepat meneguk air, aku memutuskan untuk segera naik. Mumpung mentalku masih tabah. Mumpung semangatku belum runtuh. Ayo, cepat Nina, segera naik!

Dan, perjuangan naik pun dimulai. Jauh lebih berat di banding turun karena mengangkat kaki pun sudah tak kuat lagi. Strategiku saat itu adalah menggunakan kekuatan tangan dan tubuh atas untuk menyeret tubuhku naik. Otot paha sudah kaku, tak kuat karena tanjakan terlalu tajam, maka tanganku kugunakan untuk mencari pegangan dan menarik tubuhku naik. Beberapa kali aku berhenti. Sebagian teman sudah mendahuluiku. Sebagian lain di belakangku. Seingatku, ada 4 orang yang dengan sabar menungguiku: Bang Dul, Mas Sendy, Mas Luki, hm, satunya siapa ya? Amor kayaknya.

Mereka sepertinya memang sengaja menungguiku. Menyemangati. Beberapa kali aku mendengar tawaran mereka akan menarikku ke atas, tapi aku berulang menggelengkan kepala dan mempersilahkan mereka untuk mendahuluiku. Nafasku memang sudah nyaris habis, tapi kekeraskepalaanku masih menempel kuat dan aku tahu aku harus kembali memaksa ketahanan tubuh dan mentalku untuk naik.

Dari atas aku dengar suara teman-teman yang sudah sampai. Mereka juga menyemangatiku: “Ayo mbak, sudah hampir sampai.”

Suara itu aku jadikan kompas. Kegelapan sudah total memeluk bumi. Cahaya senter justru menyilaukanku. Beberapa kali aku malah kehilangan pandanganku ke pijakan demi pijakan karena cahaya itu.

Dan setelah beberapa waktu, akhirnya sampai juga aku di gerbang bambu yang kuingat sebagai jalan masuk. Aku dengar nafas-nafas terengah dari teman-teman. Aku dengar pula ada yang sempat muntah. Aih, rupanya bukan aku saja yang harus berjuang tadi. Ada rasa lega mendengar semua teman-teman sudah selamat sampai di titik ini.

Tinggal lah kami menyusuri jalan menaik untuk kembali ke area parkir.

famtrip blogger kementerian pariwisata republik indonesia di lumajang

Aku harus mengakui, track menuju Lembah Tumpak Sewu lebih berat dari Track Mata Air Guyangan. Pemacu adrenalinnya agak berbeda. Mata Air Guyangan memang menantang karena sekali jatuh tak ada ampun lagi. Tapi, infrastruktur di Mata Air Guyangan, Nusa Penida jauh lebih bagus. Di sana tangga cukup kuat karena terbuat dari besi-besi dan terpelihara. Andai jenjang tangga di Tumpak sewu juga dibuat seperti itu.

Apakah aku menyesal sudah menuruni lembah di Tumpak Sewu? TIDAK..!
Semua terbayar oleh keindahan di dasar tebing. Asli.

Untuk pejalan lain, cobalah track ini. Tapi ukurlah kekuatan dulu sebelum memutuskan turun. Kenakan sepatu atau sandal gunung dan hindari membawa barang terlalu banyak. Cukupkan energi sebelum turun. Rasanya akan seru kalau turun lebih pagi agar bisa menikmati garis-haris matahari. Aku yakin kalau sinar matahari cukup, akan sering muncul pelangi, saat embun air memecah bilur-bilur sinarnya dalam chroma warna. Tertarik?

#PesonaIndonesia #AirTerjunTumpakSewu #WaterFall #VisitLumajang #Traveller #TravelBlogger #Instagramer #NinaYusab

Keterangan Feature Image: Setetes Surga Di Tumpak Sewu (Capture: Sendy Aditya Saputra)

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2018 Nina Yusab

Theme by Anders Norén