Nina Yusab

Traveling – Culinary – Rundom Thougt

Wajib Kunjung Saat Ke Ngarai Sianok

Ngarai Sianok. Sebutan ngarai jelas menunjukkan sebuah lembah curam berbatas tebing tinggi di tepiannya. Demikian juga ngarai Sianok ini. Mendatangi Bukittinggi, Sumatera Barat, tak bakal lengkap tanpa ke ngarai ini.

Banyak yang bisa dieksplorasi di Ngarai Sianok, baik wisata alam, wisata buatan, tempat belanja maupun tempat makan. Tapi, apa saja tempat atau lokasi wajib kunjung di Ngarai Sianok, dan bagaimana menempuhnya dengan tenaga minimal namun efektif dan efisien? (dhuh, bahasaku…).

Intinya, kita akan menikmati Ngarai Sianok dari sebelah mana? Jawabannya bisa sangat beragam. Bayangkan, ngarai ini panjangnya 15 km, membentang dari selatan yaitu dari Koto Gadang, melintasi nagari Sianok Anam Suku, dan berakhir di kecamatan Palupuh. Mau dari spot mana saja, ngarai ini indah. Menurutku kamera secanggih apapun, tak akan mampu menangkap keindahannya secara utuh. Apa aku terlalu berlebihan menilai kecantikan alam yang satu ini? Bisa jadi. Tapi, aku yakin, banyak yang sependapat dengan diriku.

Nah, daripada bingung, lebih baik aku ceritakan saja alur perjalanan kami mengeksplorasi area Ngarai Sianok dalam satu hari itu. Alur ini cukup menjangkau potensi utama keindahan di sekitar wilayah ini. Untuk gambaran, kami serombongan tidur di Hotel Gran Malindo, di jl Panorama 30, Bukittinggi, Sumatera Barat. Hotel ini hanya berjarak 100 meter dari pintu masuk Taman Panorama, semacam taman dengan view point Ngarai Sianok yang dibangun pemerintah daerah Bukittinggi. Dari sini, Kita bisa menikmati pemandangan ngarai dari sebelah atas. Meski dekat dengan Taman Panorama, tapi guide kami, Mr Buddy lebih menyarankan kami menempuh alur Taruko – Janjang Koto Gadang – istirahat makan siang – dan Lobang Jepang.

Taruko
Taruko ini adalah semacam cafe resto yang tetap in meski sudah dibuka sejak tahun 2010. Lokasinya tepat di lembah Ngarai Sianok. Area cafe dibuat terbuka dengan penataan taman yang memukau. Panorama di sekitar cafe memanjakan mata. Ini saatnya selfie dan capture foto. Instagramable banget!

Menurutku datang ke Taruko pagi itu jadi ‘kesalahan’ kami yang pertama. Kenapa, karena kami tadi sudah sarapan katupek sayur, plus masih harus melanjutkan ke tempat lainnya. Jadi, begitulah. Tak bisa berlama-lama, hanya foto-foto saja. dan mobil sudah menanti kami untuk dibawa ke Janjang Seribu.

Janjang Koto Gadang
Janjang Koto Gadang merupakan ‘track’ berupa tangga memanjang yang cukup menantang. Wisata Janjang Koto Gadang yang memiliki 315 anak tangga ini, jalurnya cukup curam. Dari penduduk sekitar diperoleh keterangan bahwa jalur tangga sudah ada sejak lama oleh penduduk Koto Gadang yang terletak di atas tebing ngarai, untuk turun ke lembah dan naik ke pusat kota Bukittinggi. Tiap-tiap desa yang berada di dekat ngarai, memiliki jalan sendiri untuk menuju dasar lembah, ada yang berupa tangga, ada pula yang berupa jalan-jalan setapak.

Nah, jalur tangga yang sekarang jadi wisata, cukup spesial. Janjang ini merupakan jalur khusus beberapa tokoh nasional kita untuk menempuh jalan bersekolah setiap harinya. Sebut saja Perdana Menteri pertama Sutan Syahrir, Menteri Luar Negeri pertama H. Agus Salim, tokoh pejuang hak-hak wanita yang juga wartawan wanita pertama di republik ini, Rohana Kudus, juga Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim yang kesemuanya memang berasal dari Koto Gadang. Untuk bersekolah di Bukittinggi mereka harus menempuh jalur ini setiap hari. Hm, Jadi penasaran, bagaimana kehidupan desa Koto Gadang ya?

janjang koto gadang dulu digunaan untuk mempermudah anak-anak koto gadang menyeberang ke bukittinggi untuk belajar

Janjang Koto Gadang direhabilitasi dalam bentuknya yang sekarang pada tahun 2012. Bentuk yang mirip tembok china ini cukup ikonik. dan saat ini menjadi jalur turun ke Ngarai Sianok paling favorit. Kondisi tangga sangat bagus. Setiap kelokan menjanjikan pemandangan yang bagus untuk berfoto.

di ujung Janjang Koto Gadang, apalagi kalau bukan Batang Sianok. Batang adalah sebutan orang Minang untuk sungai. Batang Sianok selebar 200-an meter. Sungainya berair jernih. Kepengen rasanya main air di sini. Sayang, waktu tak cukup bersahabat karena perut sudah menuntut untuk diisi. Dan iming-iming menu Gulai Itiak Lado Hijau sudah tak dapat dilawan lagi. Jadilah kami menyusur jalanan yang telah dibangun di kanan kiri sungai, menuju mobil yang sudah siap membawa kami ke Lansano Jaya.

Gulai Itiak Lado Hijau
Menu ini sepertinya jadi ikon Ngarai Sianok. Setiap kita melewati warung dan restoran di sekitar ngarai, selalu saja sajian gulai itik cabai hijau jadi unggulan. Aku jadi penasaran, apa yang membedakan gulai itik di sini dibandingkan tempat lain. Maklum, beberapa hari di Bukittinggi, setiap rumah makan menyajikan secara hidang lauk-pauknya termasuk menu itik ini. Jadi setidaknya aku sudah mencicip beberapa kali si gulai itik. Seperti apa kelezatan Gulai Itiak Lado Hijau Sianok?

Pilihan makan siang di Lansano Jaya, Desa Sianok, sudah pas. Lauk pauk dihidang. Blogger-bloger lain yang sama penasaran dengan diriku soal gulai itik, menunggu. Maklum, meski lauk lain sudah dihidang, nasi juga sudah di meja, tapi si gulai itik belum juga mampir. Rupanya, ibarat film, si lakon selalu muncul belakangan. Kudu sabar. Dan, saat itik akhirnya show off di muka kami… whoaaaa… dramatis!

bebek lado hijau banyak dijajakan di resto yang ada di sekitar ngarai sianok

Begini, di tempat lain, biasa si itik disajikan hidang seperti lauk lain, sepiring maksimal 2 potong. Itiknya pun kecil-kecil. Nah, siang ini si itik tampil berbeda! Dia disajikan dalam piring besar, dengan isi sekitar 4 potong itik. Rasanya pun berbeda. Gulai Itiak Lado Hijau di tempat ini jauh lebih pedas dibandingkan tempat lain. Rempahnya cukup kuat. Mantap.

Gulai Itiak Lado Hijau. Tak perlu waktu lama untuk menghabiskannya. Tapi tentu, setelah kehebohan kami mengcapture-nya terlebih dahulu. Sikaaaaat!

Lobang Jepang
Usai makan, barulah kami ke Lobang Jepang. Kami masuk dari pintu terdekat dari arah Ngarai Sianok. Pintu pas di sisi jalan raya. Kami di drop di seberang pintu masuk, menyeberang dulu untuk mengakses Lobang Jepang dari sisi ini. Di dekat pintu terdapat loket penjualan tiket masuk. Murah saja kok tiketnya, hanya Rp 5.000/orang. Masuk dari pintu ini menurutku adalah ‘kesalahan’ kami berikutnya. Mau tahu kenapa? Baca terus tulisan ini.. 🙂

Lobang Jepang di Bukittinggi, Sumatera Barat konon merupakan salah satu lubang yang terpanjang di Asia. Diperkirakan bila ditempuh semua lorongnya akan mencapai sekitar 6 kilometer. Pintu tembusannya banyak. Beberapa menjangkau Ngarai Sianok, satu tembusan ke Jam Gadang, dan juga tembus di dekat Benteng Fort De Kock yang termasuk di wilayah Kebun Binatang Bukittinggi. Beberapa tembusan lain kami lihat sepanjang kami menyusuri jalan raya.

Tembusan atau mulut lubang tersebut saat ditemukan kecil saja. Saat ditemukan pertama kali pada awal tahun 1950, pintu Lobang Jepang hanya 20 cm dengan kedalaman 64 meter. Tapi setelah dikelola dan dibuka secara umum pada tahun 1984 oleh pemerintah daerah, pintu-pintu masuk Lobang Jepang diperbesar sehingga lebih mudah dilalui. Meskipun demikian, masih disisakan beberapa pintu sesuai aslinya untuk ‘display’ kepada wisatawan.

Dari pemandu wisata kami memperoleh keterangan kalau fungsi Lobang Jepang dulunya merupakan tempat penyimpanan perbekalan dan peralatan perang tentara Jepang. Sejumlah ruangan khusus terdapat di terowongan ini, di antaranya adalah ruang pengintaian, ruang penyergapan, penjara, dan gudang senjata. Ada jugadapur dekat penjara, yang sekaligus berfungsi sebagai tempat memotong-motong tahanan yang sudah tewas lalu dibuang melalui lubang air ke bawah. hm, cukup membuat bulu kuduk berdiri.

lobang jepang setelah direhabilitasi, dinding di semen dan lubang diperlebar. Namun demikian ada fasilitas-fasilitas yang sengaja dibiarkan seperti aslinya, di antaranya ruang penjara

Banyak akses ke lorong tertentu di tutup untuk wisatawan. Tak lebih dan tak kurang untuk keselamatan wisatawan yang mengeksplore Lobang Jepang ini. Saat ini lorong yang bisa diakses untuk wisata telah ditutup semen dan di bagian dalam divariasikan panel lampu yang berubah-ubah warna cahayanya. Sehingga bentuk aslinya sudah tak nampak lagi. Untuk kebutuhan wisata, lorong yang dibuka hanya sekitar 1.5 km saja. Diperoleh keterangan kalau beberapa bagian lorong akan difungsikan sebagai cafe.

Lantas, apa yang membuatku menyesal saat mengakhiri eksplorasi ke Lobang Jepang ini? Kami harus mendaki ratusan anak tangga, sampai kami menembus pintu keluar yang ternyata di Taman Panorama, yang tak jauh dari hotel kami menginap. Baca: mendaki. Huuffff. Tahu begitu, bagusan kami masuk dari pintu taman panorama saja, menuruni tangga-tangga, mengeksplorasi Lobang Jepang, dan keluar dari pintu yang dekat jalan raya tempat kami masuk tadi. Hemat tenaga, kan?

Begitu lah. Yah, namanya juga baru pertama kemari. Tak tahu trik-nya.

Nah, mari sekedar berandai-andai mengulangi lagi perjalanan di Ngarai Sianok ini. Aku akan memilih memulai hari justru dari Koto Gadang. Bisa jadi kelilingan sebentar di desa Koto Gadang sekedar menyerap desa para intelektual dan tokoh nasional kia. Kemudian baru aku susuri Janjang Koto Gadang hingga ke Batang Sianok, dan aku akan berpuas-puas foto dan bermain air di sungai ini. Tak perlu terburu-buru. Lakukan saja hingga jam makan siang. Setelah itu, cicipi Gulai Itiak Lado Hijau. Baru setelah makan siang, susuri Lobang Jepang dari arah Taman Panorama dan keluar dari lubang dekat jalan raya. Paling jam 3 sore juga sudah puas banget. Setelah itu jangkau lah Taruko, untuk ngopi-ngopi manis dan berfoto. Aih, sepertinya aku justru bisa melamun dan banyak menulis di sini. Cobalah.

#TdS2016 #PesonaSumbar #PesonaMinang #Bukittinggi #WestSumatera #LobangJepangBukittinggi #NgaraiSianok #JanjangKotoGadang #KotoGadang #GulaiItiakLadoHijau #Taruko #BloggerTravel #Traveller #FoodTraveller #NinaYusab

Next Post

Previous Post

Leave a Reply

© 2019 Nina Yusab

Theme by Anders Norén